JAYAPURA — Aktivitas nelayan di Dermaga Dok 9, Distrik Jayapura Utara, kini diselimuti keresahan setelah wilayah tangkap mereka terganggu operasi pemetaan potensi minyak dan gas bumi. Tim survei dari PT Huatong Service Indonesia (HSI) dilaporkan memutus puluhan rumpon milik warga demi memuluskan jalur survei seismik proyek Blok Migas Northern Papua.
Data Dinas ESDM Papua mencatat sedikitnya 58 titik rumpon diputus sepanjang periode Desember 2025 hingga Maret 2026. Pemutusan ini dilakukan di jalur survei yang membentang sepanjang 2.065 kilometer, mulai dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, Mamberamo, hingga Kabupaten Supiori.
Bagi nelayan pesisir Jayapura, rumpon bukan sekadar alat bantu, melainkan aset bernilai tinggi. Satu unit rumpon membutuhkan biaya pembuatan berkisar Rp50 juta hingga Rp100 juta. Alat ini biasanya dibangun secara swadaya oleh kelompok yang terdiri dari 10 orang nelayan.
Yonas Lawan, anggota Kelompok Nelayan Karya di Inpres Dok 9, mengaku terkejut saat mengetahui aset kelompoknya diangkut ke darat tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal, dari hasil tangkapan di rumpon itulah ia mampu membiayai sekolah enam anaknya hingga salah satunya menjadi sarjana.
“Kami kaget, kami rasakan mereka sudah ganggu kami punya piring makan. Kehidupan nelayan tergantung dari rumpon. Kita tak diberitahu, rumpon nelayan diputuskan, lalu dibawa ke darat,” kata Yonas, Selasa (14/4/2026).
Hal senada diungkapkan Kosmos Kendi dari Kelompok BW Woi. Ia terpaksa berhenti melaut selama dua bulan terakhir karena rumpon yang menjadi lokasi utama mencari ikan telah hilang. "Rumpon itu kami punya dapur, mereka ganggu kami punya dapur," ujarnya dengan nada kecewa.
Keberadaan rumpon sangat krusial untuk efisiensi biaya melaut. Nelayan Jayapura umumnya menggunakan perahu kayu kecil bermesin tempel. Dengan adanya rumpon, mereka cukup menempuh jarak 5-10 mil dan bisa langsung memancing tuna, cakalang, atau tongkol yang berkumpul di sana.
Semba Rosumbere, nelayan Jayapura Utara, menjelaskan bahwa rumpon berfungsi sebagai "rumah ikan" yang dibuat dari material rudal besi bekas serta ikatan daun kelapa. Tanpa rumpon, nelayan harus mencari ikan hingga jarak 20-30 mil ke tengah laut lepas.
“Kami tidak mencari jauh-jauh lagi karena melaut jauh bisa menghilangkan nyawa. Selain itu, biaya bensin bisa membengkak. Biasanya cukup 30 liter bensin untuk pulang-pergi ke rumpon,” tutur Semba.
Koordinator Nelayan BW Woi, Asbani Wiyawari, menyebutkan ada sekitar 4.200 keluarga di Kota Jayapura yang menggantungkan hidup dari laut. Dari jumlah tersebut, lebih dari 150 keluarga atau sekitar 10 kelompok nelayan terdampak langsung oleh pembersihan jalur seismik ini.
Blok Migas Northern Papua sebenarnya bukan wilayah kerja baru. Wilayah ini sudah ditetapkan sebagai pemenang lelang sejak 2009 melalui Keputusan Direktur Jenderal Migas, namun perkembangannya sempat vakum belasan tahun. Proyek ini kembali mencuat setelah Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM) membukanya kembali pada 4 Maret 2026 sebagai salah satu dari 10 area potensi migas nasional.
Meski berstatus proyek strategis, para nelayan mengeluhkan ketiadaan sosialisasi sebelum tim survei bergerak. Pemutusan rumpon terjadi saat cuaca ekstrem melanda Jayapura antara Desember hingga Februari, sehingga nelayan baru menyadari aset mereka hilang saat kembali melaut.
“Tak ada ikan, tak bisa memancing. Pulang dengan tangan kosong,” ujar Kosmos Kendi menceritakan pengalamannya saat pertama kali mendapati rumpon kelompoknya telah diputus sepihak oleh kapal surveyor.