JAYAPURA — Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Jayapura tidak hanya memantau harga di lapangan. Mereka juga mengintervensi rantai pasok dari hulu. Bantuan 3.500 ekor ayam petelur dan pakan telah disalurkan ke kelompok tani di Doyo, Nimbokrang, dan Sentani.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Jayapura, Elvina Situmorang, menargetkan pada akhir 2026 daerahnya bisa swasembada telur hingga 60 persen. “Kami tidak lagi tergantung dari luar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis.
Sidak menyasar wilayah pembangunan I hingga IV. Tujuannya ganda: memastikan stok barang aman sekaligus mengendalikan harga yang berpotensi melonjak. “Pelaksanaan sidak juga untuk mengetahui harga barang di wilayah pembangunan I hingga IV guna memastikan ketersediaan stok sekaligus menekan inflasi di daerah ini,” kata Elvina.
Pemkab Jayapura tidak hanya mengandalkan pengawasan. Sejumlah langkah konkret diambil untuk menjaga daya beli masyarakat.
Pemkab menjalin kerja sama dengan distributor, Perum Bulog, dan BUMD. Hasilnya, gerai harga stabil beroperasi menjual 10 komoditas pokok di bawah harga eceran tertinggi (HET). Selain itu, kegiatan pangan murah digelar di beberapa lokasi secara berkala.
Elvina mengajak seluruh pelaku UMKM, pedagang, dan masyarakat untuk mendukung produk lokal. “Kami ajak bersama-sama menjaga stabilitas harga dengan mendukung produk lokal produksi para petani,” tambahnya.
Langkah Pemkab Jayapura menunjukkan pergeseran strategi. Tidak hanya reaktif dengan sidak, tetapi juga proaktif membangun kemandirian pangan. Bantuan ayam petelur adalah salah satu upaya mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Papua.
Dengan target swasembada telur 60 persen pada 2026, Pemkab Jayapura berharap harga telur di pasar bisa lebih stabil dan terjangkau bagi warga. Jika produksi lokal kuat, fluktuasi harga akibat gangguan distribusi dari luar daerah bisa diminimalkan.