JAYAPURA — Konferensi Penelitian, Sains, dan Teknologi ke-8 di Universitas Goroka menjadi panggung bagi PNGIMR untuk menegaskan posisi riset sebagai dasar kebijakan publik. Profesor Pomat menekankan perlunya memperkuat sistem pertanian dan pangan agar masyarakat memiliki akses terhadap nutrisi yang andal dan memadai.
Menurut dia, temuan penelitian harus diterjemahkan menjadi solusi praktis yang menyentuh kehidupan warga, khususnya mereka yang tinggal di komunitas pedesaan. Riset tidak berhenti di jurnal, melainkan jadi dasar perbaikan layanan di lapangan.
Pada aspek kesehatan, Profesor Pomat menyerukan kolaborasi lebih besar antar sektor melalui pendekatan One Health. Pendekatan ini mengakui keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat pencegahan penyakit dan meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat. Perlindungan terhadap masyarakat sekaligus ekosistem menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi itu.
Ia juga menegaskan kembali peran PNGIMR bukan hanya sebagai lembaga penelitian ilmiah. Lembaga itu berperan sebagai kontributor nasional untuk kebijakan dan praktik kesehatan masyarakat berbasis bukti, memastikan penelitian berujung pada hasil kesehatan yang lebih baik bagi warga Papua Nugini.
Profesor Pomat menyoroti meningkatnya kerentanan penduduk pedesaan PNG terhadap tantangan terkait iklim. Perubahan pola cuaca, kerawanan pangan, dan risiko kesehatan yang muncul menjadi tiga persoalan yang saling memperkuat.
Ia menggarisbawahi perlunya strategi adaptasi berbasis sains yang memberdayakan masyarakat untuk menanggapi perubahan lingkungan. Pendekatan itu diharapkan tidak sekadar reaktif, tetapi membangun kapasitas warga sejak awal.
Di forum yang sama, Universitas Goroka menyelenggarakan wisuda pertama Institut Pembelajaran Jarak Jauh dan Fleksibel (IDFL) untuk Pusat Madang. Prosesi berlangsung di Aula Katedral Roh Kudus dengan tema pemberdayaan pendidikan jarak jauh dalam membentuk Papua Nugini untuk 50 tahun ke depan.
Sebanyak 99 mahasiswa lulus dari sejumlah disiplin ilmu. Mereka menempuh program Sarjana Pendidikan (Dalam Jabatan) Manajemen Sekolah, Diploma Pendidikan Anak Usia Dini, Diploma Akuntansi Bisnis, Diploma Manajemen Bisnis, serta Diploma Manajemen Pariwisata dan Perhotelan.
IDFL di bawah Universitas Goroka didirikan sembilan tahun lalu, dengan nota kesepahaman yang ditandatangani bersama Administrasi Provinsi Madang pada Mei tahun ini. Saat ini terdapat 17 pusat IDFL di seluruh negara, dengan rencana perluasan ke provinsi-provinsi lain.
Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian dan Inovasi Universitas Goroka Dr. Mathew Landu menekankan agar para wisudawan terjun ke lapangan dan mentransformasi sistem pendidikan. Ia menyatakan kampusnya berupaya meningkatkan pengetahuan dengan mengikuti Standar Layanan Pengukuran dan standar regulasi lain yang diterapkan secara internasional di lembaga pendidikan akademik.
Delegasi Dewan Universitas Goroka, John Sari, menekankan pentingnya kemitraan dalam menyediakan program yang dibutuhkan untuk pengembangan guru. Ia memuji Pemerintah Provinsi, Administrasi, dan para pemangku kepentingan yang bersama-sama memastikan pendidikan dapat diakses di provinsi tersebut, termasuk melalui bantuan keuangan bagi siswa.