MERAUKE — Kepengurusan enam lingkungan di Paroki Santa Theresia Buti-Merauke resmi dikukuhkan dalam perayaan misa yang dipimpin Pastor Simon Petrus Matruty. Enam lingkungan tersebut meliputi Lingkungan Santo Antonius, Hermanus, Ludwina, Cicilia, Wilhelmus, dan Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis. Selain itu, pengurus Stasi Petrus-Paulus Yobar dan Kombas Santu Paulus Dahuda turut disahkan dalam kesempatan yang sama.
Prosesi pengukuhan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pastor Paroki oleh Sekretaris Dewan Pastoral Paroki Santa Theresia Buti, Krispinus Palobo. Saat nama-nama dibacakan, pengurus inti yang terdiri dari ketua, sekretaris, dan bendahara dipersilakan maju dan berjejer di depan altar. Sementara para anggota tetap berada di tempat duduk masing-masing dalam posisi berdiri.
Setelah semua pengurus berada di posisi masing-masing, mereka mengikuti pengucapan janji yang dipandu langsung oleh Pastor Matruty. Janji tersebut mencakup komitmen menjalankan tugas dan tanggung jawab secara total melayani umat di lingkungan, stasi, maupun kombas.
Usai pengucapan janji, Pastor Matruty turun dari mimbar dan mereciki para pengurus dengan air berkat. Ratusan umat yang memadati Gereja Santa Theresia Buti menyaksikan seluruh rangkaian prosesi pengukuhan tersebut.
Pastor Matruty menyampaikan bahwa para pengurus telah dibekali kekuatan rohani melalui rekoleksi yang digelar sehari sebelumnya. Kegiatan tersebut dipimpin Pastor Felix Amais, MSC. Menurutnya, rekoleksi bertujuan mempersiapkan para pengurus menjadi pekerja-pekerja unggul di ladang Tuhan.
"Hari ini secara resmi mereka telah dikukuhkan dalam perayaan misa disaksikan ratusan umat di Gereja Santa Theresia Buti," ungkap Pastor Matruty.
Dia menjelaskan bahwa para pengurus merupakan alat yang Tuhan pakai untuk membangun Gereja Santa Theresia Buti sebagai kerajaan-Nya. Dengan revitalisasi kepengurusan ini, dia berharap muncul suasana, iklim, dan manusia baru yang siap memperjuangkan visi paroki.
Pastor Matruty meminta para pengurus menjadi perekat persatuan dan kesatuan umat, sejalan dengan doa Yesus agar semua umat bersatu. Dia menegaskan bahwa tugas pelayanan bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan mencari jiwa-jiwa.
"Saya meminta kepada pengurus agar menjadi perekat persatuan serta kesatuan seperti doa Yesus yakni semoga mereka semua bersatu," pintanya.
Dia juga menekankan bahwa para pengurus harus siap berkorban demi Tuhan. Menurutnya, hidup yang dijalani manusia sepenuhnya milik Tuhan, sehingga pelayanan di lingkungan, stasi, dan kombas menuntut kesediaan memberi diri sepenuhnya bagi umat.