RI Jajaki Ekspor Beras ke Filipina, PNG, dan Timor Leste

Penulis: Sofyan Basri  •  Jumat, 09 Oktober 2026 | 08:06:31 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan penjajakan ekspor beras ke Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste di Jakarta.

PAPUA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia sedang menjajaki ekspor beras ke Filipina, Papua Nugini, dan Timor Leste setelah sukses mengirim 1.000 ton ke Malaysia. Penjajakan ini menandai babak baru bagi Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai importir beras, kini berbalik menjadi pemasok pasar regional.

"Kita masih jajaki ada dua negara, ada dua-tiga negara. Itu jajaki Filipina, Papua Nugini, dan nanti Timor Leste, negara tetangga kita," kata Amran saat ditemui di Jakarta. Ketika ditanya soal kepastian volume, ia menjawab singkat: "Belum. Belum ada kepastian."

Dari Swasembada ke Pasar Ekspor

Keputusan membuka keran ekspor beras diambil setelah pemerintah memastikan stok dalam negeri berada di posisi aman. Amran menyebut cadangan beras di Bulog mencapai 5,2 juta ton. Pemerintah bahkan menyewa gudang tambahan untuk menampung surplus 2 juta ton.

"Di mana kita sudah swasembada beras, stok kita 5,2 juta ton sampai dengan hari ini. Bahkan kita sudah sewa gudang, 2 juta ton kita surplus," ujarnya. Pemerintah juga memperkirakan produksi beras nasional 2026 lebih tinggi dibanding 2025 berdasarkan estimasi Badan Pusat Statistik (BPS).

Ekspor beras ini bukan hal baru bagi Indonesia. Amran mengingatkan bahwa Indonesia pernah mengirim beras ke Palestina dan Mesir pada masa lalu. "Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia," kata dia dalam keterangan tertulis.

Kontrak 500 Ribu Ton ke Malaysia

Indonesia resmi mengirim 1.000 ton beras premium ke Malaysia menjelang Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pengiriman ini merupakan bagian dari kontrak besar yang mencapai 500 ribu ton. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyebut capaian ini sebagai tonggak sejarah setelah 42 tahun Indonesia tidak mengekspor beras.

"Sudah diputuskan ada kontrak 500 ribu ton Indonesia ekspor ke Malaysia, negara jiran, negeri jiran, tetangga, 500 ribu ton. Ya menguntungkan kontraknya, dan Indonesia menjadi penghasil ekspor lagi setelah 42 tahun," ungkap Hashim.

Ekspor tahap awal dilakukan secara bertahap dengan mengirim 1.000 ton beras premium ke Malaysia. Pemerintah memastikan kebutuhan domestik tetap menjadi prioritas utama sebelum memasok pasar internasional.

Apa Dampaknya bagi Petani dan Pasar Global

Bagi petani Indonesia, pembukaan pasar ekspor membuka peluang harga jual yang lebih baik, terutama untuk beras premium. Selama ini, kelebihan produksi sering kali hanya diserap pasar domestik dengan harga yang kurang menguntungkan. Dengan adanya kontrak ekspor, permintaan tambahan dari luar negeri bisa menstabilkan harga gabah di tingkat petani.

Filipina menjadi pasar potensial karena negara itu merupakan salah satu importir beras terbesar di dunia. Papua Nugini dan Timor Leste, meski volumenya lebih kecil, memiliki kedekatan geografis yang menekan biaya logistik. Jika penjajakan ini berbuah kesepakatan, Indonesia berpotensi mengubah posisinya dari importir menjadi pemain di pasar beras regional.

Namun, tantangan tetap ada. Fluktuasi cuaca, perubahan iklim, dan kebutuhan domestik yang terus tumbuh bisa memaksa pemerintah menahan laju ekspor. Amran tidak merinci target volume untuk tiga negara baru tersebut, menandakan proses negosiasi masih berjalan hati-hati.

Keberhasilan ekspor ke Malaysia menjadi ujian awal. Jika pasokan ke Sarawak berjalan lancar, kredibilitas Indonesia sebagai eksportir beras akan menguat di mata calon pembeli lain. Sebaliknya, gagal memenuhi kontrak bisa menutup peluang yang baru saja terbuka.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top