JAYAPURA — TNI Angkatan Darat menambah kekuatan tempur udara dengan mendatangkan dua unit helikopter Mi-35M dari Rusia. Helikopter angkut serbu multiguna ini diproyeksikan beroperasi di wilayah Papua yang didominasi medan pegunungan. Kehadiran dua unit tersebut melengkapi armada helikopter serang yang sudah dimiliki Indonesia.
Helikopter ini memiliki kemampuan operasi malam berkat dukungan sistem penglihatan malam. Kapasitas angkutnya juga besar, mampu membawa logistik hingga 3-5 ton. Spesifikasi itu dinilai relevan dengan kebutuhan operasi di Papua.
Mi-35M merupakan hasil modernisasi ekstensif dari keluarga legendaris Mil Mi-24 "Hind". Helikopter ini dirancang untuk menghancurkan persenjataan dan peralatan lapis baja, sekaligus memberikan dukungan tembakan bagi pasukan darat.
Julukan "Buaya Terbang" melekat karena bentuk bagian depan yang menyerupai kepala buaya atau aligator. Penampilannya terlihat sangar karena dilapisi pelindung baja.
Berbeda dengan helikopter serang murni seperti AH-64 Apache atau Mi-28 Havoc yang hanya diawaki dua orang tanpa ruang muat, Mi-35M punya kabin lapang di bagian belakang. Kabin itu mampu mengangkut hingga 8 personel pasukan bersenjata lengkap atau muatan logistik hingga 1.500 kg. Helikopter ini juga bisa difungsikan untuk evakuasi medis.
Beban eksternal (sling load) yang dapat dibawa mencapai 2.400 kg. Kecepatan maksimumnya 310 km/jam, kecepatan jelajah sekitar 260 km/jam, dan jarak operasional hingga 1.000 km.
Meski berbobot berat, Mi-35M ditenagai dua mesin turboshaft Klimov VK-2500 dengan daya masing-masing 2.200 HP. Konfigurasi itu membuat helikopter ini berperforma tinggi di daerah bersuhu ekstrem maupun dataran tinggi.
Dari sisi dimensi, Mi-35M memiliki panjang sekitar 17,5 meter, tinggi 3,9 meter, dan lebar 6,5 meter. Bobot kosongnya mencapai 8.200 kg, sementara berat maksimum saat lepas landas 11.500 kg.
Persenjataan utamanya adalah meriam GSh-23L 23mm dengan laju tembak 3.396 butir per menit. Helikopter ini juga dilengkapi rudal anti-tank 9M120-1 "Ataka", rudal udara 9M39 Igla, serta roket S-130OF dan S-8KO di bagian kiri dan kanan.
Pelindung baja super kuat terpasang di bagian kokpit dan komponen vital mesin. Sistem avionik canggih, kacamata penglihatan malam (Night Vision Goggles), serta sensor pencitraan termal melengkapi kemampuan operasi siang, malam, dan cuaca ekstrem.
Dua helikopter Mi-35M akan dioperasikan TNI AD di fasilitas udara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. Penempatan itu bertujuan memusatkan kekuatan helikopter serang Indonesia di satu lokasi.
Mi-35M akan bergabung dengan helikopter tempur Mi-35P yang telah menjadi andalan kemampuan helikopter serang Indonesia sejak 2003. Akuisisi dua unit terbaru ini sekaligus mempertahankan pijakan industri pertahanan Moskow dengan Indonesia.
Helikopter Mil Mi-35M diperkirakan memiliki harga jual 36 juta dolar AS atau sekitar Rp645,44 miliar per unit. Jenis ini terbilang jarang dioperasikan negara lain karena konfigurasi perangkat elektronik dan komunikasinya tergolong sangat rahasia.
Hal itu berbeda dengan varian Mi-35P yang banyak diekspor ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Produksi Mi-35M dilakukan pabrik Rostvertol, anak perusahaan Russia Helicopters, dan dirancang biro desain militer Mil Design Bureau (OKB Mil).