Perum Bulog wilayah Papua dan Papua Barat mencatat realisasi penyerapan beras di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, hingga September 2026 mencapai sekitar 4.500 ton atau 19,56 persen dari target tahunan 23.000 ton. Pimpinan Bulog Papua dan Papua Barat Chairul Mazhar menyebut perubahan iklim dan musim kering di Merauke sebagai penyebab utama lambatnya penyerapan. Bulog tetap optimistis target 23.000 ton terealisasi hingga akhir 2026.
JAYAPURA — Pimpinan Bulog Papua dan Papua Barat Chairul Mazhar mengungkapkan bahwa sejumlah lahan pertanian di Merauke mengalami kekeringan cukup parah. Laporan dan dokumentasi dari lapangan menunjukkan permukaan tanah di beberapa lokasi terlihat retak dengan kondisi retakan yang cukup dalam.
Dampak kekeringan paling dirasakan pada kawasan pertanian yang masih mengandalkan sistem tadah hujan. Minimnya curah hujan membuat pasokan air untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi menjadi terbatas.
Selain curah hujan yang rendah, kondisi saluran irigasi turut mempengaruhi ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat. Saat air laut mengalami pasang, air yang masuk ke sejumlah saluran irigasi cenderung memiliki kadar payau hingga asin.
Kondisi itu menyulitkan petani memperoleh pasokan air yang sesuai untuk tanaman padi. "Selain curah hujan yang rendah, kondisi saluran irigasi turut mempengaruhi ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat," kata Chairul.
Chairul menyatakan kondisi cuaca tersebut berdampak terhadap produksi padi. Penyerapan beras pada tahun ini menjadi salah satu yang terendah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
"Lambatnya penyerapan beras di wilayah tersebut dikarenakan kondisi perubahan iklim dan kondisi cuaca yang memasuki musim kering di wilayah Merauke," ujarnya.
Realisasi 4.500 ton hingga September 2026 baru mencakup 19,56 persen dari target tahunan 23.000 ton. Angka itu menempatkan sisa tiga bulan terakhir sebagai periode krusial bagi Bulog Merauke.
Meski menghadapi kendala cuaca, Bulog tetap optimistis penyerapan beras di Merauke dapat meningkat. Target tahunan sebesar 23.000 ton diharapkan terealisasi hingga akhir 2026.
Optimisme itu bertumpu pada perbaikan kondisi lapangan menjelang akhir tahun. Bulog belum merinci langkah tambahan yang disiapkan untuk mengejar sisa target tersebut.