Bulog Serap 4,1 Juta Ton Beras, Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

Penulis: Vicky Prasetya  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36:31 WIB
Bulog mencatat realisasi pengadaan beras PSO 4.115.014 ton setara beras hingga 8 Oktober 2026.

PAPUA — Perum Bulog mencatat realisasi pengadaan beras Public Service Obligation (PSO) 4.115.014 ton setara beras hingga 8 Oktober 2026, atau 102,88 persen dari target pemerintah 4 juta ton. Capaian itu menjadi rekor tertinggi sejak Bulog berdiri dan melampaui realisasi 2025 yang hanya 3.191.969 ton.

Realisasi pengadaan tahun ini jauh meninggalkan capaian pada tahun-tahun sebelumnya. Rekor terbesar Bulog sebelumnya terjadi pada 2012, ketika pengadaan menyentuh 3,65 juta ton setara beras. Lonjakan tahun ini menunjukkan percepatan penyerapan panen yang lebih agresif dibandingkan satu dekade terakhir.

Dari Gudang Sampai Sawah: Mesin Pengadaan yang Dipercepat

Pengadaan dilakukan secara masif melalui jaringan Bulog di berbagai wilayah sentra produksi. Petani, kelompok tani, mitra penggilingan, dan pemangku kepentingan terkait terlibat langsung dalam proses ini. Bulog mengoptimalkan seluruh instrumen, mulai dari penguatan jaringan pembelian di tingkat produksi hingga percepatan penyerapan pada momentum panen.

Kesiapan sarana penyimpanan dan pergudangan juga menjadi fokus. Tujuannya agar hasil panen petani terserap optimal sekaligus memperkuat stok pangan yang dikelola pemerintah. Percepatan di sisi hulu ini menjadi fondasi bagi program stabilisasi pangan di sisi hilir.

Kata Dirut Bulog Soal Rekor Baru

Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menyebut capaian ini bukan sekadar angka. Menurut dia, ada kerja keras dan dedikasi seluruh insan Bulog di berbagai penjuru Indonesia yang turun langsung ke lapangan mendampingi petani.

"Capaian lebih dari 4 juta ton setara beras yang memecahkan rekor capaian tertinggi sepanjang Bulog berdiri ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada kerja keras, dedikasi, dan semangat seluruh insan Bulog di berbagai penjuru Indonesia yang terus bergerak, turun langsung ke lapangan, mendampingi petani, serta memastikan hasil panen dapat terserap dengan baik. Keberhasilan melampaui target ini menjadi bukti bahwa dengan kerja bersama, amanah Pemerintah dapat kita jalankan secara optimal," ujar Ahmad Rizal, Jumat (09/10/2026).

Ia menambahkan, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak dalam memperkuat ekosistem pangan nasional. Ahmad Rizal menyampaikan terima kasih kepada Presiden, Kemenko Pangan, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, TNI, pemerintah daerah, para petani, penyuluh, dan mitra kerja yang terlibat dalam perjalanan ini.

"Kami menyampaikan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, selanjutnya terima kasih juga atas kepercayaan Bapak Presiden kepada Bulog, serta dukungan Kemenko Pangan, Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, TNI, pemerintah daerah, para petani, penyuluh, mitra kerja, dan seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan bersejarah ini. Capaian ini harus menjadi energi bagi Bulog untuk terus memberikan manfaat bagi petani, menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia," tambahnya.

Dampak ke Petani dan Konsumen

Serapan yang besar di tingkat hulu memberi petani kepastian pasar saat panen raya. Harga gabah di tingkat produsen lebih terjaga karena Bulog menyerap hasil produksi secara langsung melalui jaringan pembelian di sentra produksi. Bagi konsumen, stok yang kuat di gudang Bulog menjadi bantalan ketika gejolak harga pangan muncul, terutama menjelang akhir tahun dan hari besar keagamaan.

Pengadaan yang kuat juga memperkokoh tiga pilar ketahanan pangan nasional yang dijalankan Bulog: menjaga ketersediaan pangan, mendukung stabilisasi harga di tingkat produsen dan konsumen, serta mengelola cadangan pangan pemerintah. Dengan fondasi stok yang kokoh, pemerintah punya ruang lebih leluasa menjalankan program stabilisasi dan penyaluran pangan kepada masyarakat.

Momentum Menuju Akhir Tahun

Dengan capaian 102,88 persen dari target 2026, Bulog akan menjaga momentum penyerapan hingga akhir tahun. Perusahaan menargetkan kolaborasi, inovasi, dan penguatan operasional dari hulu ke hilir terus berlanjut guna mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

Rekor pengadaan ini juga menjadi kado menjelang dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Posisi Bulog sebagai pelaksana amanah pemerintah di sektor pangan semakin strategis, terutama ketika ancaman perubahan iklim dan gejolak pasar global menuntut cadangan pangan yang lebih tangguh. Bagi petani, angka 4,1 juta ton berarti lebih dari sekadar statistik — itu jaminan bahwa hasil kerja mereka di sawah terserap dan menjadi bagian dari kekuatan pangan Indonesia.

Reporter: Vicky Prasetya
Sumber: agrofarm.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top