Dosen Unmus Latih Ibu-Ibu Kampung Tambat Merauke Olah Sagu Jadi Cendol, Bidik Pasar Online

Penulis: Udin Syamsul  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 08:01:01 WIB
Dosen Unmus melatih ibu-ibu Kampung Tambat, Merauke, mengolah sagu menjadi cendol sebagai produk usaha baru.

MERAUKE — Program pengabdian masyarakat yang digagas tiga dosen Unmus menyasar ibu-ibu rumah tangga di Kampung Tambat sebagai penggerak utama usaha kuliner berbasis sagu. Kampung ini dikenal sebagai salah satu pusat pengolahan sagu modern dengan mesin dwitrap di Distrik Tanah Miring, sekaligus punya potensi wisata seperti camping ground Tablem Country.

Pelatihan berfokus pada pengenalan cendol sagu sebagai produk usaha baru, bukan sekadar variasi olahan sagu yang sudah dikenal warga. Selama ini sagu di Kampung Tambat lebih banyak diolah menjadi sagu sep yang dibakar dengan kelapa atau papeda berbentuk bubur sagu.

Mengapa Sagu Dipilih Jadi Bahan Utama Cendol

Sagu atau saksak dalam bahasa lokal Papua dinilai punya tekstur lebih kenyal dibanding tepung beras maupun tepung hunkwee yang biasa dipakai membuat cendol. Bahan ini juga bebas gluten sehingga dianggap lebih sehat bagi konsumen yang mulai sadar pentingnya makanan alami.

Ketua tim pengabdian, Angla Florensy Sauhenda, menyebut pendampingan diarahkan agar bahan lokal tetap terpakai sambil membuka peluang usaha baru bagi warga kampung. "Tim PKM memberikan pelatihan/pendampingan kepada ibu-ibu di kampung Tambat cara membuat cendol sagu dengan baik dengan memanfaatkan potensi sagu di kampung ini sebagai sumber daya lokal sehingga dapat menjangkau pasar lokal hingga online," ujarnya.

Menurut Angla, sagu bisa diolah menjadi hidangan modern yang tampil berbeda dari olahan tradisional. Cendol sagu disajikan dengan gula aren asli, santan segar, dan es serut untuk memberi rasa manis, gurih, dan segar.

Sosialisasi Tanpa Pengawet Sebelum Pendampingan Dapur

Sebelum masuk ke praktik pembuatan, kelompok ibu-ibu rumah tangga menerima sosialisasi soal cendol sagu tanpa pengawet. Ada tiga hal dasar yang ditekankan kepada peserta: pemilihan jenis sagu sebagai bahan utama, komposisi bahan, serta dampak negatif bahan pengawet terhadap kesehatan.

Pemahaman ketiga hal itu dinilai penting agar proses pembuatan berjalan sesuai target pendampingan. Pendekatan ini juga menjaga agar produk yang dihasilkan tetap aman dikonsumsi sekaligus punya daya saing di pasar.

Sagu di 60 Kampung Merauke, Komoditas Unggulan Orang Asli Papua

Sagu merupakan komoditas unggulan dan makanan pokok terutama bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) di Kabupaten Merauke. Penyebaran sagu di daerah ini terdapat di 60 kampung lokal, termasuk Kampung Tambat.

Selain sebagai sumber pangan, sagu punya nilai budaya yang kuat. Proses pengolahannya kerap melibatkan seluruh anggota keluarga dan menjadi momen sosial penting dalam komunitas Papua. Tradisi seperti festival sagu digelar untuk merayakan panen dan menghormati keberlimpahan alam.

Sagu juga dikenal sebagai makanan pokok yang tahan lama dan bergizi, cocok untuk mendukung kehidupan di lingkungan terisolasi seperti banyak daerah di Papua.

Dari Dapur Kampung ke Pasar Digital

Inovasi pengolahan bahan lokal di Papua mencakup aspek pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran digital. Tujuannya meningkatkan nilai ekonomi, daya saing, dan keberlanjutan budaya produk, sekaligus menjaga kelestarian sumber daya alam dan identitas lokal.

Peluang usaha cendol sagu dinilai menjanjikan karena kesadaran warga Merauke terhadap makanan alami dan sehat terus tumbuh. Dengan konsep penyajian yang unik, cendol sagu diharapkan bisa diterima berbagai kalangan, dari konsumen di kampung hingga pembeli daring.

Bagi ibu-ibu Kampung Tambat, pelatihan ini menjadi pintu masuk untuk mengubah potensi sagu di sekitar mereka menjadi sumber penghasilan tambahan. Pendampingan berikutnya diarahkan agar bahan lokal tetap menjadi fondasi usaha kuliner warga.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: pasificpos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top