JAYAPURA — Distrik Yapsi di Kabupaten Jayapura berdiri di atas medan bergelombang seluas 1.291,28 kilometer persegi. Jalanan berbatu, kelangkaan air bersih, sanitasi yang belum memadai, dan sinyal telekomunikasi yang kembang-kempis membuat warga di kawasan ini kesulitan menjangkau layanan kesehatan.
Kondisi tersebut mendorong Tim Ekspedisi Patriot ITB turun langsung ke kawasan Lereh, Distrik Yapsi. Tim akademisi ini berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi untuk menjangkau salah satu daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Papua.
Klaster Kesehatan Ekspedisi Patriot ITB memperkenalkan terobosan berbasis digital bernama Lerehfarma.id. Platform ini dirancang sebagai kanal informasi dan layanan kesehatan bagi warga di pelosok Yapsi.
Kawasan Lereh dihuni beragam kelompok: warga transmigrasi, eks-transmigrasi, penduduk lokal, hingga pekerja perkebunan kelapa sawit. Keberagaman itu membuat kebutuhan layanan kesehatan di wilayah tersebut tidak seragam.
Jarak Lereh dari Kota Jayapura sekitar empat jam perjalanan darat. Medan yang berat dan infrastruktur telekomunikasi yang belum merata memperparah keterisolasian warga.
Minimnya akses informasi membuat warga sering terlambat mendapat rujukan kesehatan. Persoalan itu yang coba dijawab lewat pendekatan digital oleh tim ITB.
Ekspedisi Patriot ITB berjalan bersama Kementerian Transmigrasi. Kerja sama ini menempatkan klaster kesehatan sebagai salah satu fokus utama di kawasan transmigrasi Lereh.
Kehadiran tim akademisi di Yapsi menjadi upaya meretas krisis kesehatan di wilayah 3T. Pendekatan digital dipilih karena keterbatasan geografis membuat layanan konvensional sulit menjangkau seluruh warga.
Sejauh mana Lerehfarma.id akan beroperasi dan bagaimana skema pendampingannya belum dijelaskan dalam bahan. Yang jelas, inisiatif ini menandai masuknya intervensi teknologi kesehatan ke salah satu sudut paling terisolasi di Kabupaten Jayapura.