Sebanyak empat festival budaya masih rutin digelar setiap tahun di Tanah Papua sebagai ruang hidup dan panggung penegasan identitas masyarakat adat. Festival Budaya Lembah Baliem di Jayawijaya menjadi yang paling lama berjalan sejak 1989, sementara tiga lainnya tumbuh dari karakter sosial dan kebudayaan masing-masing daerah. Kegiatan itu dinilai menjadi ajang memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan nenek moyang di tengah arus modernisasi.
JAYAPURA — Tanah Papua menyimpan jejak peradaban ratusan suku bangsa yang masing-masing mengaitkan kehidupan pada bahasa, seni, dan ritual tersendiri. Diperkirakan ada sekitar 250 suku tersebar di enam provinsi di Papua dengan keanekaragaman budaya dalam bentuk tarian, musik, maupun kerajinan tangan.
Modernisasi dan digitalisasi yang mengikis identitas lokal membuat upaya merawat warisan nenek moyang kian menantang. Festival budaya hadir sebagai salah satu jawaban, sekaligus menjadi agenda pariwisata tahunan.
Empat Festival yang Masih Rutin Digelar
Dari berbagai festival yang pernah dilaksanakan, empat kegiatan kini masih berjalan rutin. Masing-masing punya karakter berbeda karena tumbuh dari lingkungan sosial dan kebudayaan masyarakat setempat.
- Festival Budaya Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan
- Festival Asmat Pokman di Kabupaten Asmat
- Festival Danau Sentani di Kabupaten Jayapura
- Festival Budaya Biak Munara Wampasi di Kabupaten Biak Numfor
Lembah Baliem, Festival Tertua Sejak 1989
Festival Budaya Lembah Baliem menjadi kegiatan paling lama dan paling dikenal dari Tanah Papua. Pertama kali diselenggarakan pada 1989, festival ini berkembang menjadi agenda tahunan yang menampilkan kekayaan budaya masyarakat Lembah Baliem.
Atraksi yang ditampilkan meliputi tarian tradisional, permainan tradisional, karapan babi, hingga bakar batu. Penyelenggaraan rutin setiap Agustus itu digelar Pemda Jayawijaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dengan menggandeng masyarakat, tokoh adat, pelaku seni, dan UMKM.
Pada pelaksanaan awal Agustus 2026, tercatat 270 wisatawan mancanegara datang menyaksikan festival tersebut.
Asmat Pokman, Kolaborasi Keuskupan dan Pemkab
Festival Asmat Pokman digelar setiap Oktober dengan karakter khas karena lahir dari kerja sama Keuskupan Agats dan Pemerintah Kabupaten Asmat. Kolaborasi itu menunjukkan festival berkembang dari hubungan panjang antara komunitas lokal, lembaga keagamaan, dan pemerintah.
Pengunjung dapat menyaksikan proses mengukir, melihat karya seni, menikmati kuliner lokal, dan menyaksikan parade perahu. Perubahan nama menjadi Festival Asmat Pokman pada 2019 berkaitan dengan karya tangan, karena festival menjadi ruang bagi masyarakat Asmat mengekspresikan karya, budaya, dan identitas mereka.
Seni ukir menjadi daya tarik utama, tetapi kegiatan lain juga dilakukan seperti anyaman, tari, lagu, ritual, kuliner lokal, pangkur sagu, hingga parade perahu.
Danau Sentani, Panggung Alam dan Budaya Pesisir
Festival Danau Sentani mengambil nama dari tempat acara berlangsung dan menjadikan danau beserta kebudayaan masyarakat sekitarnya sebagai panggung utama. Festival yang berlangsung sejak awal 2000-an itu menjadi program Pemerintah Kabupaten Jayapura.
Pemkab Jayapura menyebut tujuan festival antara lain mempromosikan pariwisata, keindahan alam, dan keragaman budaya sekaligus melestarikan kearifan lokal. Penyelenggaraannya melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Snap Mor dan Apen Beyeren, Tradisi Sakral Suku Biak
Festival Budaya Biak Munara Wampasi dilaksanakan setiap Oktober sejak 2012 dengan atraksi andalan Snap Mor dan Apen Beyeren. Keduanya merupakan tradisi adat sakral dari Suku Biak.
Snap Mor adalah tradisi menangkap ikan bersama-sama di perairan dangkal atau karang saat air laut surut, yang disebut musim meti. Masyarakat turun ke laut membawa jaring, tombak, atau alat penusuk ikan tradisional khas Biak bernama kalawai untuk menangkap ikan di area tumpukan batu karang (mor).
Apen Beyeren atau tradisi menginjak batu panas merupakan ritual sakral berupa atraksi berjalan tanpa alas kaki di tumpukan batu yang dibakar hingga membara dengan suhu sekitar 360 derajat celsius. Atraksi itu hanya dapat dilakukan pria pilihan yang berhati bersih dan telah menjalani ritual puasa serta dikuatkan doa-doa oleh tetua adat.
Mengapa Festival Penting bagi Pelestarian Budaya
Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Cenderawasih Profesor Dr Fredrik Sokoy menilai kegiatan budaya rutin yang digelar sejumlah daerah di Papua tidak sekadar memperkenalkan budaya khas kepada dunia, tetapi juga menjadi ajang melestarikannya.
Festival Danau Sentani, misalnya, membawa ritme perayaan yang bersumber dari kehidupan pesisir dan air dengan diiringi tarian Isosolo, tarian di perahu yang dilakukan masyarakat setempat.
Rangkaian festival itu menjadi penanda bahwa warisan budaya Papua tetap hidup, bukan sekadar tontonan tahunan bagi wisatawan.