JAYAPURA — Papuan Leaders Bootcamp Cohort II – 2026 digelar dengan melibatkan generasi muda dari perwakilan enam provinsi di Tanah Papua. Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen menilai forum tersebut sebagai ruang pembelajaran strategis untuk memperkuat kepemimpinan generasi muda, pemberdayaan perempuan, serta pengembangan usaha yang bertumpu pada potensi dan kearifan lokal.
Kegiatan ini diinisiasi WRI Indonesia bersama sejumlah mitra. Aryoko menyampaikan apresiasinya kepada para penyelenggara dan pihak yang terlibat dalam penyiapan bootcamp tersebut.
Kekayaan Alam Papua sebagai Modal, Bukan Sekadar Warisan
Aryoko menyebut Papua dianugerahi kekayaan alam luar biasa, keanekaragaman hayati, hutan yang luas, serta budaya dan pengetahuan tradisional yang diwariskan lintas generasi. Kekayaan itu, katanya, bukan sekadar warisan, melainkan modal pembangunan dan tanggung jawab yang harus dijaga bersama.
Tantangannya, menurut Aryoko, adalah bagaimana mengelola kekayaan tersebut agar memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan dan menghilangkan identitas budaya. Generasi muda dinilai membutuhkan model pembangunan yang tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek.
Model itu mesti sekaligus menciptakan lapangan usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, memperkuat ekonomi kampung, dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Dalam konteks itulah tema "Bisnis Lestari Berakar Budaya, Membangun Usaha Berkelanjutan Berbasis Masyarakat di Tanah Papua" dinilai relevan.
Sagu, Pinang, dan Kopi Papua Didorong Jadi Usaha Bernilai Tambah
Pemerintah Provinsi Papua ingin melihat pangan lokal, hasil hutan, kayu, perikanan, pertanian, industri daur ulang, dan ekowisata berkembang menjadi sumber ekonomi yang produktif dan inovatif. Manfaatnya harus langsung dirasakan masyarakat.
Sagu, pinang, kopi Papua, hasil kebun, dan berbagai produk lokal lain dinilai punya peluang dikembangkan menjadi usaha bernilai tambah. Aryoko menegaskan pengembangannya tetap harus menghormati hak masyarakat adat, menjaga kelestarian lingkungan, dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
"Kekayaan ini bukan sekadar warisan, melainkan modal pembangunan dan tanggung jawab yang harus kita jaga bersama," kata Aryoko Rumaropen.
Pemuda dan Perempuan Papua Diminta Tak Berhenti di Sertifikat
Aryoko menegaskan pemuda dan perempuan Papua bukan sekadar penerima manfaat pembangunan. Mereka harus menjadi pelaku utama dan pemimpin perubahan di kampung serta komunitas masing-masing.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran gagasan. Peserta diminta memanfaatkan kesempatan untuk menyusun model bisnis yang realistis, memahami pengelolaan keuangan, memperkuat pemasaran, membangun jejaring, dan merancang langkah nyata setelah kegiatan berakhir.
Aryoko juga mengapresiasi pendekatan bootcamp yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman pelaku usaha, dan praktik langsung di lapangan. Melalui pembelajaran dari komunitas, termasuk praktik usaha di BUMMA Namblong, peserta dapat melihat bahwa menjaga alam dan mengembangkan ekonomi bukan dua tujuan yang bertentangan.
"Ingatlah perubahan besar dimulai dari sebuah langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Jangan takut memulai, jangan takut berinovasi, berintegritas, berakar pada budaya yang menjadi kekuatan kita," ujar Wagub Rumaropen.
Pemprov Papua Berkomitmen Perkuat Ekonomi Kampung
Pemerintah Provinsi Papua menyatakan komitmen mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, penguatan ekonomi mikro kecil dan menengah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Jejaring yang terbentuk lewat bootcamp diharapkan terus berkembang menjadi kemitraan nyata.
Kemitraan itu dinilai penting untuk membuka akses pendampingan, pemasaran, pembiayaan, dan pengembangan usaha bagi masyarakat Papua. Kepada para peserta, Aryoko berpesan agar membawa pulang lebih daripada sertifikat: pengetahuan, keberanian, jejaring, dan rencana aksi yang bisa diwujudkan di kampung masing-masing.