Informasi ini pertama kali diungkap oleh The Information yang mengutip sumber internal Microsoft. Meski belum ada rencana konkret yang berjalan saat ini, para eksekutif Microsoft disebut telah membahas skenario tersebut sebagai bagian dari upaya membalikkan keadaan Xbox yang kian sulit.
Jika restrukturisasi benar-benar terjadi, Xbox bisa mengikuti jejak LinkedIn dan GitHub—dua unit bisnis yang beroperasi sebagai anak perusahaan mandiri di bawah Microsoft. Alternatif lainnya, Microsoft bisa mencari mitra untuk menjalankan Xbox sebagai usaha patungan, atau bahkan memisahkannya sepenuhnya dari perusahaan induk.
Sejak Asha Sharma dan Matt Booty mengambil alih pucuk pimpinan Xbox awal tahun ini, mereka telah mengisyaratkan perubahan besar dalam beberapa pekan mendatang. Sharma, yang resmi menjabat CEO Xbox pada Februari lalu, berjanji akan mengubah haluan secara dramatis.
Beberapa langkah awal sudah terlihat: Microsoft mulai menjauh dari strategi rilis game multiplatform dan justru menurunkan biaya langganan Game Pass. Namun, memo internal terbaru dari Sharma mengindikasikan bahwa perubahan yang lebih besar masih akan datang—termasuk kemungkinan pemutusan hubungan kerja massal untuk menekan biaya operasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mengakuisisi studio game dan konten. Namun, investasi sebesar itu tak mampu mendongkrak penjualan konsol Xbox. Profitabilitas divisi ini justru terus menurun, sementara industri game secara global tengah menghadapi lonjakan biaya memori yang membuat produksi semakin mahal.
Kondisi ini memaksa Microsoft mencari jalan keluar. Chief Strategy Officer Matthew Ball bahkan sempat melontarkan ide untuk menyisipkan iklan dalam game guna membantu menutup biaya operasional—sebuah langkah yang kontroversial di mata para gamer.
Di tengah krisis, CEO Microsoft Satya Nadella dan CFO Amy Hood tetap memberikan lampu hijau kepada Sharma untuk meningkatkan belanja demi mempercepat pengembangan waralaba utama seperti Halo, Fallout, dan The Elder Scrolls. Namun, ketiga franchise tersebut nyaris tak melahirkan rilis besar dalam beberapa tahun terakhir.
Halo Infinite yang dirilis pada 2021 justru mencoreng peluncuran Xbox Series X/S. Akibatnya, studio pengembang 343 Industries direorganisasi menjadi Halo Studios dan game berikutnya beralih dari mesin internal ke Unreal Engine 5. Remake Halo pertama dijadwalkan rilis bulan depan, tapi status pengembangan seri utamanya masih abu-abu.
Situasi lebih suram terjadi di Bethesda. The Elder Scrolls VI tak kunjung muncul delapan tahun setelah pengumuman perdananya. CEO Todd Howard baru-baru ini mengonfirmasi bahwa game tersebut masih membutuhkan waktu bertahun-tahun lagi. Sementara itu, Fallout bahkan belum masuk tahap produksi—Bethesda menunggu The Elder Scrolls VI rampung lebih dulu.
Spekulasi beredar bahwa Microsoft bisa menyerahkan Fallout ke Obsidian, studio yang kini menaungi Tim Cain—sang kreator Fallout—dan sejumlah kru yang terlibat di dua seri pertama. InXile, anak perusahaan Microsoft lainnya, juga memiliki keterkaitan historis dengan franchise tersebut.
Mantan CEO PlayStation, Shuhei Yoshida, dengan sinis memprediksi bahwa Xbox pada akhirnya akan "larut" ke dalam Windows. Prediksi ini merujuk pada rencana konsol Xbox generasi berikutnya—dengan nama kode Helix—yang kabarnya akan mendukung penuh game PC.
Keputusan besar ada di tangan Microsoft dalam beberapa bulan ke depan. Apakah Xbox akan tetap menjadi divisi konsol yang mandiri, berubah menjadi anak perusahaan seperti LinkedIn, atau justru dijual sebagian ke mitra? Satu hal yang pasti: era Xbox seperti yang kita kenal selama ini mungkin akan segera berakhir.