MAKASSAR — Prosesi serah terima jemaah haji Kloter 29 asal Provinsi Papua di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang, Selasa (23/6) dini hari, bukan sekadar agenda administratif kepulangan. Momen ini menegaskan wajah inklusif Papua, di mana warga pendatang yang mengabdikan diri di Bumi Cenderawasih mendapat hak pelayanan ibadah haji yang setara.
Mayoritas jemaah dalam kloter ini adalah warga keturunan Bugis-Makassar dan Jawa yang telah puluhan tahun menetap di sejumlah wilayah Papua. Mereka berasal dari Kabupaten Jayapura, Biak Numfor, Kepulauan Yapen, Sarmi, Keerom, Waropen, Supiori, hingga Mamberamo Raya.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Papua, H. Musa Narwawan, menyampaikan rasa syukur atas kepulangan para tamu Allah. Ia berharap seluruh jemaah memperoleh predikat haji mabrur dan mampu menjaga kemabruran itu dalam kehidupan sehari-hari.
"Selamat datang kembali di tanah air. Semoga seluruh jemaah memperoleh predikat haji mabrur dan hajjah mabrurah serta mampu menjaga kemabruran itu dalam kehidupan sehari-hari," ujar Musa.
Musa juga mengajak seluruh hadirin mendoakan seorang jemaah yang wafat di Tanah Suci agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan diharapkan diberi kekuatan dan ketabahan.
Wakil Koordinator Bidang Penjemputan dan Penerimaan Jemaah PPIH Embarkasi/Debarkasi Makassar, H. Wahyuddin Hakim, mengapresiasi kebersamaan dan kedisiplinan jemaah Kloter 29 selama menjalani ibadah haji. Ia berharap pengalaman spiritual selama 42 hari di Makkah dan Madinah menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial.
"Kami berharap pengalaman spiritual selama 42 hari di Tanah Suci dapat meningkatkan kualitas ibadah, kepedulian sosial, dan akhlak para jemaah setelah kembali ke tengah masyarakat," kata Wahyuddin.
Prosesi serah terima turut dihadiri para Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah dari delapan kabupaten di Papua, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.
Dengan berakhirnya pemulangan Kloter 29, operasional pemulangan jemaah haji asal Papua melalui Debarkasi Makassar resmi ditutup. Namun, kepulangan para jemaah membawa pesan yang lebih besar: bahwa keberagaman yang terawat dalam bingkai persaudaraan mampu menjadi kekuatan.
Di tengah perbedaan latar belakang suku dan budaya, para jemaah pulang dengan satu identitas yang sama: sebagai tamu Allah yang telah menunaikan ibadah haji dan diharapkan menjadi teladan bagi masyarakat di tempat mereka tinggal. Papua pun kembali menunjukkan dirinya sebagai rumah bersama yang merawat kebhinekaan dalam semangat persaudaraan dan keimanan.