5 Alasan TPNPB Eksekusi Yantinus Kogoya dan Istrinya di Yahukimo, Tuduh sebagai Agen Intelijen Militer

Penulis: Toni Haryadi  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 22:19:01 WIB

JAYAPURA — TPNPB secara resmi mengumumkan telah mengeksekusi mati Yantinus Kogoya dan Shelly Wenda. Dalam pernyataan yang diterima dari Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, dan Komandan Operasi Batalyon Yamue, Dejang Heluka, eksekusi disebut sebagai hukuman mati bagi pengkhianat perjuangan Papua.

“Yantinus Kogoya dan istrinya merupakan agen intelijen militer Pemerintah Indonesia,” ujar Sebby Sambom dalam pernyataannya.

Lima Alasan TPNPB Melakukan Eksekusi

TPNPB merinci lima poin yang menjadi dasar tindakan tersebut. Poin pertama menyebut Yantinus dan istrinya pernah membawa alat berat masuk ke wilayah operasi Kodap XVI Yahukimo untuk kepentingan perusahaan. Akses itu sempat dibatasi TPNPB, namun kemudian mereka kembali dengan membawa aparat militer Indonesia untuk melanjutkan pembukaan lahan.

Kedua, Yantinus Kogoya dituduh membawa aparat militer Indonesia menggunakan pesawat dan kendaraan melalui jalur Trans Papua menuju lokasi yang disebut markas TPNPB. Peristiwa itu disebut berujung pada operasi militer yang menewaskan sejumlah anggota TPNPB akibat penembakan dan serangan bom.

Poin ketiga, TPNPB menyatakan Yantinus sebelumnya merupakan anggota mereka. Namun setelah berada di Kota Dekai, ia menjalin hubungan dengan Wakapolres Yahukimo dan menggunakan kendaraan dinas untuk berkeliling bersama aparat militer Indonesia.

Keempat, Yantinus Kogoya disebut membawa kabur satu pucuk senjata laras panjang milik Kodap XVI Yahukimo dan menyerahkannya kepada aparat militer Indonesia.

Kelima, TPNPB menyatakan eksekusi dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku dalam medan perang. Siapa saja yang terbukti sebagai pengkhianat perjuangan Papua layak dijatuhi hukuman mati menurut aturan internal mereka.

Seruan kepada Keluarga dan Publik

Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, meminta keluarga Yantinus Kogoya dan Shelly Wenda memahami alasan yang disampaikan. Ia juga memperingatkan pihak-pihak yang disebut sebagai agen intelijen militer Pemerintah Indonesia yang masih beroperasi di Yahukimo agar menghentikan aktivitasnya.

TPNPB juga meminta publik nasional dan internasional memperhatikan penjelasan mereka, serta menghentikan penyebaran opini yang dinilai tidak mengetahui situasi di lapangan.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: suarapapua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top