Lapak Baca Buku Gratis di Papua Jadi Gerakan Literasi Akar Rumput, Isi Ruang Pendidikan yang Tak Tersentuh Pemerintah

Penulis: Sofyan Basri  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 16:20:01 WIB
Pegiat literasi Thomas Bagubau menunjukkan koleksi buku di Lapak Baca Buku Gratis, sebuah gerakan literasi akar rumput di Papua.

PAPUA — Sebuah gerakan literasi bernama Lapak Baca Buku Gratis tengah menguat di Tanah Papua. Inisiatif yang digagas oleh pegiat literasi Thomas Bagubau ini tidak sekadar menyediakan buku, melainkan membangun ruang aman bagi masyarakat untuk membaca, menulis, dan berdialog secara bebas.

Thomas menegaskan bahwa gerakan ini adalah fondasi perubahan yang esensial bagi anak-anak Papua. Lapak baca dirancang ramah bagi semua kelompok, termasuk kawan-kawan tunanetra dan tunarungu, baik yang berada di perkotaan maupun di pelosok kampung.

Literasi sebagai Obat Trauma dan Kehilangan

Menurut Thomas, budaya membaca adalah peluang besar bagi generasi yang trauma akibat konflik berkepanjangan. Banyak anak yang kehilangan rumah, keluarga, dan tempat tinggal, sehingga akses pendidikan layak menjadi kebutuhan mendesak.

"Jika mereka tidak diberikan buku dan pena, mereka akan terus merasakan penderitaan yang drastis, trauma, hingga kehilangan segalanya," ujarnya kepada Sasagu Papua, Selasa (11/2/2025).

Realitas di lapangan menunjukkan banyak sekolah yang terbakar, dijadikan pos, atau bahkan menjadi medan tempur. Kondisi ini menciptakan gangguan psikologis bagi masyarakat yang pernah merasakan kecemasan akibat kehilangan anggota keluarga.

Melawan Ketidaktahuan yang Memakan Korban

Gerakan ini berangkat dari keyakinan bahwa membaca, menulis, dan berdiskusi adalah solusi untuk menyelesaikan persoalan secara matang. Thomas mengingatkan bahwa ketidaktahuan telah banyak memakan korban selama ratusan tahun.

"Bangun budaya literasi, sebab ketidaktahuan telah banyak memakan korban," tegasnya.

Di tengah derasnya arus informasi digital yang masuk tanpa filter, budaya literasi menjadi tameng bagi masyarakat Papua. Thomas menilai pengaruh budaya luar dan teknologi informasi yang kian kusut justru menggerus saraf otak dan energi tubuh generasi muda.

Menjaga Budaya Leluhur Lewat Cerita

Menariknya, gerakan literasi di Papua tidak bisa dilepaskan dari tradisi lisan masyarakat setempat. Thomas menjelaskan bahwa cerita ke cerita adalah budaya leluhur yang terus tumbuh kokoh dari generasi ke generasi.

"Sekalipun zaman menguasai semua ilmu pengetahuan, mereka mampu menjaga dan memelihara budaya bahasa sebagai tulisan mereka," katanya.

Oleh karena itu, kampanye literasi yang dibangun berbasis pendidikan budaya. Tujuannya mengisi ruang-ruang kosong yang tidak tersentuh pemerintah, sekaligus memastikan setiap anak Papua memiliki basis pengetahuan yang mumpuni dan kokoh.

Menolak Eksploitasi Alam demi Pendidikan Manusia

Thomas menyoroti paradoks pembangunan di Papua yang kerap berfokus pada eksplorasi sumber daya alam, tetapi melupakan pembangunan manusia. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin membicarakan sumber daya manusia jika lingkungan sekitar justru dirusak demi kepentingan bisnis.

"Apakah kita memilih alam untuk dieksplorasi dan dirusak demi bisnis ilegal atau sekadar mengisi perut?" tanyanya retoris.

Menurutnya, membangun manusia tidak cukup dengan pengetahuan dangkal dan kemampuan literasi yang minim. Pilihan paling tepat adalah menjalankan pendidikan melalui aktivitas membaca, menulis, dan bercerita tentang belajar.

Masa Depan Literasi di Bumi Cenderawasih

Gerakan Lapak Baca Buku Gratis menegaskan bahwa pembagian buku adalah tindakan perubahan yang paling nyata. Thomas optimistis, dalam 20 hingga 100 tahun ke depan, generasi dan masyarakat Papua akan sadar dan memahami pentingnya literasi secara perlahan.

"Kami perlu buku-buku untuk mengembangkan pemikiran yang masih tertinggal, supaya kami bisa menghidupkan buku-buku di kampung, dusun, desa, distrik, bahkan hutan," ucapnya.

Dengan semangat itu, Lapak Baca Buku Gratis terus bergerak melintasi batas geografis, memastikan setiap warga Papua mendapat hak membaca, hak berpikir, dan hak berdialog yang selama ini sering terabaikan.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: sasagupapua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top