PAPUA — Badan Pusat Statistik mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan naik 6,04 persen secara tahunan pada September 2026. Kenaikan dipicu penurunan luas panen dan produksi padi akibat fenomena El Nino yang berpotensi bertahan hingga awal 2027.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan tekanan harga terjadi di seluruh mata rantai distribusi, mulai dari penggilingan hingga konsumen akhir. Secara bulanan, harga beras di penggilingan naik 0,81 persen.
"Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan September tahun 2026 naik 0,81 persen secara month-to-month dan naik 6,04 persen secara year-on-year nya," ujar Ateng dalam konferensi pers resmi di Jakarta, Kamis (1/10).
Berdasarkan kualitas, beras premium di penggilingan mengalami kenaikan 0,81 persen mtm atau 10,52 persen yoy. Beras medium tercatat naik 0,87 persen mtm dan 4,72 persen yoy.
Tekanan harga merembet ke tingkat distributor dan konsumen. Di tingkat grosir, BPS mencatat inflasi beras 0,61 persen mtm atau 4,93 persen yoy. Di tingkat eceran, inflasi mencapai 0,80 persen mtm atau 3,73 persen yoy.
Hasil pengamatan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada Agustus 2026 menunjukkan proporsi luas lahan dalam fase standing crop atau pertanaman padi sebesar 28,07 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan periode Agustus pada tahun-tahun normal.
Kondisi tersebut dipicu dampak El Nino yang berpotensi bertahan hingga awal 2027. Fenomena ini memengaruhi siklus budidaya dan potensi produksi padi nasional untuk periode September hingga November 2026.
"Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan," ungkap Ateng.
Kenaikan harga di tingkat eceran sebesar 3,73 persen yoy memberi tekanan langsung pada daya beli rumah tangga. Bagi pelaku usaha ritel dan distributor beras, tren ini mempersempit margin jika harga jual ke konsumen tidak disesuaikan.
Pemerintah menghadapi tantangan menjaga stabilitas pasokan pangan hingga awal 2027. Intervensi melalui operasi pasar atau impor beras berpotensi menjadi opsi jika produksi dalam negeri terus tertekan cuaca.