PAPUA — Harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran nasional menembus Rp114.000 per kilogram, menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia. Badan Pusat Statistik memperingatkan lonjakan ini berpotensi mendorong inflasi tahunan pada Desember 2026 jika tidak segera dikendalikan.
PIHPS mencatat harga cabai rawit merah berada di Rp114.000 per kg, sementara cabai rawit hijau Rp84.500 per kg. Angka ini jauh di atas komoditas pangan pokok lain seperti telur ayam ras yang berada di Rp31.550 per kg.
Data tersebut dirilis berdasarkan pemantauan harga di tingkat pedagang eceran secara nasional. Selain cabai, sejumlah komoditas strategis lain juga tercatat mengalami kenaikan, terutama kelompok beras dan bawang.
Selain cabai rawit merah, PIHPS mencatat sejumlah komoditas pangan lain dengan harga sebagai berikut:
BPS mencatat harga cabai rawit naik cukup tinggi pada minggu pertama Oktober 2026, mencapai 10,21 persen. Kenaikan ini membuat selisih harga dengan batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) semakin lebar.
"Cabai rawit, naik cukup besar di minggu pertama Oktober, kenaikannya sampai 10,21 persen," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta.
Menurut Ateng, tren kenaikan harga cabai rawit berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. Jika tidak dikendalikan, harga pada Desember 2026 bisa semakin jauh dibandingkan posisi Desember 2025.
"Jika cabai rawit selalu meningkat maka jika dibandingkan year-on-year-nya kondisi akhir tahun Desember ini, khawatir semakin jauh dibandingkan Desember tahun 2025 yang dampaknya akan terjadi inflasi secara tahunan," jelasnya.
Cabai rawit merupakan komoditas bumbu dapur yang bobotnya cukup signifikan dalam keranjang inflasi pangan bergejolak (volatile food). Lonjakan harga yang tidak terkendali pada komoditas ini biasanya cepat merambat ke harga jual makanan jadi di pasar tradisional maupun warung makan.
Selisih harga yang melebar dari batas atas HAP menjadi sinyal bahwa pasokan di sejumlah daerah tidak mampu mengimbangi permintaan. Faktor cuaca dan pola tanam sering menjadi pemicu utama fluktuasi cabai rawit menjelang akhir tahun.
Bagi pelaku usaha kuliner dan pedagang pasar, kenaikan ini langsung menekan margin keuntungan karena harga jual di tingkat konsumen tidak selalu bisa dinaikkan secepat kenaikan bahan baku. Sementara bagi investor, pergerakan harga pangan bergejolak menjadi indikator awal tekanan inflasi yang bisa memengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
BPS menegaskan pemantauan harga pangan akan terus dilakukan mengingat posisi Desember menjadi periode krusial dalam perhitungan inflasi tahunan. Pemerintah daerah dan Bulog diharapkan mempercepat operasi pasar untuk komoditas yang harganya sudah menembus batas acuan.