36 Grup Reggae dari 4 Provinsi Meriahkan Papua Reggae Festival XI di Nabire, Rekor MURI Tercipta

Penulis: Toni Haryadi  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 05:31:31 WIB
grup reggae dari empat provinsi tampil pada Papua Reggae Festival XI di Bandara Lama, Nabire.

NABIRE — Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua, Teddy Pekei, menyebut Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa sebagai gubernur kedua di Tanah Papua yang memberi ruang besar bagi komunitas seniman reggae. Penilaian itu disampaikan Teddy saat membuka Papua Reggae Festival (PRF) XI di Bandara Lama, Nabire.

Menurut Teddy, gubernur pertama yang membuka ruang serupa adalah almarhum Lukas Enembe. Saat itu, Enembe menghadirkan grup band reggae se-Tanah Papua di Kota Jayapura.

"Kami dari komunitas seniman merasa bangga, ketika almarhum Lukas Enembe memberikan ruang dan waktu untuk seniman Papua bisa hadir di Kota Jayapura dengan menghadirkan grup band reggae se-Tanah Papua. Hari ini, walaupun provinsi ini baru beberapa tahun terbentuk, Bapak Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa bisa menghadirkan kita di tempat ini untuk menyelenggarakan Papua Reggae Festival yang ke sebelas di Nabire," kata Teddy Pekei saat menyampaikan sambutannya.

Rekor MURI untuk Pementasan Lagu Reggae Terbanyak

PRF XI mencatatkan sejarah baru di belantika musik Indonesia. Sebanyak 36 grup band dari empat provinsi di Tanah Papua tampil membawakan lagu reggae terbanyak, disertai penyerahan rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

"Hari ini sejarah pertama di Indonesia tercatat dan tercetak, grup reggae menyanyikan lagu reggae terbanyak di seluruh Indonesia dan ditandai dengan penyerahan rekor MURI. Jika waktu silam Black Brothers yang mendahului bermain musik reggae di Indonesia, hari ini sebanyak 36 grup band dari empat provinsi di Tanah Papua mengukir sejarah baru," ujar Teddy.

Panitia membatasi ketentuan pembawaan lagu daerah. Teddy menyebut, tanpa pembatasan itu, partisipasi musisi bisa melonjak hingga 80 grup band dari seluruh penjuru Papua.

Peluncuran Buku Biografi Arnold Ap

Panggung PRF XI juga dirangkaikan dengan peluncuran karya sastra Papua berupa buku biografi legendaris Arnold Ap berjudul "Arnold Ap Sang Martir Pesona Rindu". Peluncuran itu menegaskan posisi KORK bukan sekadar wadah musik reggae.

Teddy menegaskan komunitasnya adalah rumah bagi berbagai cabang seni di Tanah Papua, mulai dari seni kuliner, sastra, hingga seni tari.

UMKM Orang Asli Papua Wajib Isi Lapak Festival

PRF XI memprioritaskan penguatan ekonomi kerakyatan. Seluruh lapak UMKM di area festival wajib diisi pelaku usaha Orang Asli Papua (OAP).

"Papua Reggae Festival itu dari kita untuk kita. Setiap gelaran Papua Reggae Festival, UMKM di dalam area acara wajib Orang Asli Papua. Ini bukan soal diskriminasi, melainkan pemberdayaan ekonomi bagi sesama anak daerah," tutur Teddy.

Ia berharap dukungan Pemprov Papua Tengah dan pemerintah daerah lain terus berlanjut. Menurutnya, panggung besar dan megah membuat kualitas seniman Papua mampu bersaing dengan musisi luar.

"Mereka bisa membuktikan bahwa kita bisa lebih hebat daripada teman-teman kita dari luar dan hari itu sudah terbukti ketika kita bikin di lapangan Trikora Jayapura, Bapak Lukas Enembe datang dari jam 07.00 malam sampai jam 12.00 malam. Saya sendiri sampaikan, 'Bapak, izin ini sudah malam, Bapak ada sakit, jadi bisa pulang.' Beliau bilang, 'Mereka (musisi) main, kayak orang di luar negeri main.' Saya terhibur sekali, selama ini saya butuh anak-anak seniman Papua yang bisa maju," ungkapnya.

"Untuk itu kami berharap ke depan panggung-panggung seperti ini terus ada dari pemerintah daerah maupun swasta. Ketika kita sediakan panggung yang besar dan megah, kualitas seniman Papua tidak kalah hebat dengan teman-teman dari luar," tambahnya.

Ajakan Jaga Keamanan dan Jauhi Pergaulan Bebas

Teddy mengajak seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Nabire dan Papua Tengah menjaga keamanan selama festival berlangsung. Ia juga meminta warga menjauhi perilaku berisiko seperti pergaulan bebas.

"Mari kita ciptakan hal-hal yang positif di Kota Nabire dan hindari pergaulan negatif. Mari salurkan kreativitas agar anak-anak Papua bisa terus bersaing secara nasional maupun internasional," pungkasnya.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: sasagupapua.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top