JAYAPURA — Prakirawan BMKG Alya menyebut pusaran angin di dua lokasi tersebut menciptakan area pertemuan dan perlambatan kecepatan angin yang cukup masif. Daerah pertemuan itu memanjang dari Aceh, Sumatra Utara, hingga Papua.
Di Papua, potensi pertumbuhan awan hujan pekat mencakup tiga provinsi sekaligus: Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Wilayah Kalimantan Utara juga masuk daftar prakiraan.
BMKG merinci sejumlah wilayah yang perlu diwaspadai pada Jumat, 23 Oktober 2026:
Awan kumulonimbus adalah jenis awan vertikal tebal yang kerap memicu hujan lebat disertai angin kencang dan kilat. Pertumbuhannya di atas wilayah Papua berpotensi mengganggu aktivitas warga, termasuk penerbangan dan pelayaran di sekitar perairan utara Papua.
Alya menegaskan cuaca kering masih mendominasi sejumlah daerah. Hujan sedang hingga lebat tetap dapat turun secara lokal di luar pola musiman tersebut.
"Meskipun cuaca kering masih mendominasi, hujan sedang hingga lebat dapat terjadi secara lokal. Sesuaikan aktivitas dan perjalanan dengan kondisi cuaca, serta pantau informasi terbaru melalui kanal resmi BMKG," ujar Alya.
BMKG meminta masyarakat mewaspadai anomali cuaca yang bisa muncul sewaktu-waktu di wilayahnya. Warga di Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan disarankan memeriksa prakiraan sebelum beraktivitas di luar ruang.
Informasi terbaru dapat diakses melalui kanal resmi BMKG. Pembaruan prakiraan penting terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan longsor dan banjir kiriman.