PAPUA — Pertamina mengalihkan distribusi BBM ke Kalimantan Barat melalui jalur darat setelah pendangkalan Sungai Kapuas akibat El Nino menghambat kapal tanker. Stok nasional Pertalite tercatat aman di kisaran 16–18 hari, sementara solar tidak lagi bergantung pada impor.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan pendangkalan alur Sungai Kapuas membuat kapal pengangkut BBM tidak bisa melintas. Gangguan itu sempat memicu antrean panjang warga di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, termasuk Kabupaten Kayong Utara. Pertamina pun mengubah pola penyaluran agar pasokan ke SPBU tetap berjalan.
Bahlil menyampaikan hal itu di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (23/10/2026). Menurut dia, penyesuaian skema distribusi dilakukan setelah koordinasi dengan Pertamina. Kapal tanker kini difungsikan sebagai penampungan sementara sebelum BBM dipindahkan ke mobil tangki.
Dalam skema baru, BBM tidak langsung dialirkan ke terminal tujuan lewat sungai. Kapal berperan sebagai tempat penyimpanan terapung, lalu mobil tangki mengangkut BBM ke wilayah yang membutuhkan melalui jalur darat.
"Tetapi kita sudah mengubah caranya. Tadi saya tanya Pertamina, mereka menjadikan kapal sebagai penampungan, setelah itu baru didistribusikan menggunakan mobil tangki lewat jalur darat," ujar Bahlil.
Perubahan rute ini menyasar wilayah yang selama ini bergantung pada transportasi sungai. Sungai Kapuas merupakan jalur logistik utama menuju sejumlah kabupaten di pedalaman Kalimantan Barat.
PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan langkah serupa untuk menjaga pasokan ke Kabupaten Sintang dan sekitarnya. Penyusutan muka air Sungai Kapuas menyulitkan akses kapal menuju Fuel Terminal Sintang, sehingga perusahaan mengoptimalkan fasilitas penyangga di Tayan, Kabupaten Sanggau.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menjelaskan, pengoperasian fasilitas Tayan merupakan bagian dari rencana kontingensi ketika alur logistik utama terganggu. Melalui fasilitas itu, pengisian BBM dilakukan secara langsung dari kapal ke mobil tangki sebelum diantar ke SPBU.
"Kondisi Sungai Kapuas yang surut berdampak pada akses distribusi BBM jalur sungai. Untuk mengantisipasinya, Pertamina menyiapkan alternatif distribusi melalui fasilitas penyangga di Tayan agar penyaluran ke Sintang dan sekitarnya tetap berjalan," kata Kitty.
Skema direct loading ini memberi keleluasaan bagi Pertamina untuk mendekatkan titik suplai ke wilayah yang paling membutuhkan. Mobil tangki tidak perlu menempuh rute sungai yang dangkal dan berisiko bagi kapal besar.
Bahlil memastikan stok BBM nasional maupun regional Kalimantan berada di level aman. Untuk Pertalite, ketahanan stok rata-rata mencapai 16–18 hari. Adapun solar dinilai tidak menghadapi persoalan berarti karena Indonesia sudah tidak lagi mengimpor jenis bahan bakar itu.
Untuk BBM dengan angka oktan RON 92, 95, dan 98, rata-rata ketahanan stok berada di atas 20 hari atau sesuai standar minimum nasional. "Stok di Kalimantan juga tidak jauh beda dengan kondisi nasional," ucap Bahlil.
El Nino menjadi pemicu utama surutnya Sungai Kapuas. Fenomena cuaca ini menurunkan curah hujan di wilayah hulu, sehingga debit air berkurang dan sedimen mengendap di alur pelayaran. Dampaknya paling terasa bagi daerah yang tidak memiliki akses jalan memadai.
Bagi warga Kalimantan Barat, peralihan ke jalur darat menjadi penentu agar aktivitas ekonomi tidak terganggu. Pasokan BBM yang lancar dibutuhkan nelayan, angkutan barang, hingga pengguna kendaraan pribadi. Ketergantungan pada satu moda transportasi sungai membuat wilayah ini rentan saat musim kemarau panjang.
Langkah Pertamina memanfaatkan fasilitas Tayan menunjukkan pola mitigasi berbasis infrastruktur penyangga, bukan sekadar penambahan armada. Jika kemarau berlanjut, kesiapan titik suplai alternatif semacam ini akan menentukan seberapa cepat distribusi pulih.