BIAK — Carel menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pembukaan Festival Budaya Biak-Melanesia 2026 di Kabupaten Biak Numfor, Sabtu (17/10/2026). Menurut dia, festival menjadi ruang untuk menampilkan identitas masyarakat, menjaga warisan leluhur, serta memperkenalkan potensi daerah kepada khalayak yang lebih luas.
Biak Numfor memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Papua dan rumpun Melanesia. Potensi itu, kata Carel, perlu terus dijaga dan diperkenalkan melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat secara luas.
Ajakan kepada Tokoh Adat hingga Generasi Muda
Carel mengajak seluruh elemen masyarakat Papua, khususnya warga Biak Numfor, untuk berpartisipasi aktif menyukseskan festival. Undangan itu ia tujukan kepada tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, perempuan, hingga generasi muda.
"Saya mengajak seluruh masyarakat Papua, khususnya masyarakat Biak Numfor, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, perempuan, serta generasi muda untuk hadir dan berpartisipasi menyukseskan festival ini," ujar Carel.
Ia berharap festival menjadi wadah menumbuhkan kecintaan terhadap budaya, mempererat persaudaraan, dan memperkenalkan pariwisata Papua kepada masyarakat dari berbagai daerah maupun mancanegara.
"Mari kita jadikan momentum ini sebagai wujud kecintaan terhadap budaya, adat istiadat, dan kekayaan alam Papua, sekaligus mempererat persaudaraan serta mempromosikan pariwisata Papua kepada dunia," katanya.
Pelestarian Budaya Dinilai Tanggung Jawab Bersama
Carel menegaskan pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku seni. Keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, diperlukan agar tradisi dan nilai-nilai adat tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurut dia, generasi muda perlu mengenal sejarah, adat istiadat, bahasa, seni, dan berbagai warisan budaya masyarakat Biak maupun Papua secara umum. Festival diharapkan tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami dan menghargai identitas budayanya.
Carel mengingatkan budaya tidak boleh dipandang sebatas peninggalan masa lalu. Warisan budaya harus terus dirawat dan dikembangkan agar tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
"Budaya adalah jati diri kita, persatuan adalah kekuatan kita, dan Papua adalah kebanggaan kita bersama," ujar Carel.
14.200 Porsi Kuliner Lokal Dibagikan Gratis
Rangkaian festival juga menghadirkan atraksi budaya dan seni tradisional, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam serta kuliner lokal masyarakat Biak. Sebanyak 14.200 porsi kuliner lokal dibagikan gratis kepada masyarakat di sepanjang Jalan Imam Bonjol, Kota Biak, Minggu (18/10/2026).
Hidangan yang disajikan menggunakan bahan pangan lokal, termasuk ikan hasil tangkapan dari perairan Biak. Penyajian kuliner menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan pangan lokal sekaligus memperkuat suasana kebersamaan dalam perayaan budaya.
Carel menilai kuliner lokal merupakan bagian dari identitas daerah yang dapat diperkenalkan bersamaan dengan seni, tradisi, dan potensi alam. Makanan tradisional masyarakat Biak, menurut dia, memiliki tempat penting dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata budaya bagi pengunjung.
Ruang bagi UMKM dan Mama-Mama Papua
Carel menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mama-mama Papua, serta masyarakat yang bergerak di bidang kuliner dan ekonomi kreatif. Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam kegiatan budaya perlu terus diperhatikan agar masyarakat dapat mengambil bagian dalam memperkenalkan produk dan hasil olahan daerahnya.
Dengan begitu, penyelenggaraan festival tidak hanya menampilkan seni dan tradisi, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi. Keberagaman tradisi, bahasa, kesenian, dan adat istiadat dinilai sebagai kekayaan yang harus dijaga bersama karena menjadi bagian dari identitas masyarakat Papua sekaligus memperkuat persatuan.