JAYAPURA — Irwasda Polda Papua, Kombes. Pol. Jannus P. Siregar, menyatakan pola prasmanan diujicobakan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi siswa tetap segar, higienis, dan memenuhi kebutuhan gizi. Uji coba melibatkan dua kelas, yakni kelas 5 dan kelas 6 SD Negeri Inpres Dok VIII.
SPPG yang menjalankan program ini dikelola Yayasan Kemala Bhayangkari Polda Papua. Kapolda Papua bersama rombongan meninjau langsung jalannya uji coba tersebut.
Mengapa Pola Prasmanan Diujicobakan
Pola prasmanan dinilai bisa memangkas jeda antara proses memasak dan waktu makan. Dalam skema ini, makanan yang selesai dimasak diupayakan langsung disantap siswa.
"Hari ini kita melaksanakan pilot project dalam rangka mencoba membuat pola makanan bergizi gratis oleh SPPG yang dikelola oleh Yayasan Kemala Bhayangkari Polda Papua. Sebelumnya menggunakan ompreng, namun hari ini kita mencoba dengan pola prasmanan," ujar Kombes. Pol. Jannus P. Siregar.
Batas waktu yang ditetapkan maksimal dua jam sejak makanan selesai dimasak. Selama rentang itu, suhu makanan harus tetap di atas 60 derajat Celsius.
"Tujuannya untuk mewujudkan pola makanan yang siap saji dan higienis. Setelah proses masak, paling lama dua jam makanan harus bisa disantap dengan kondisi makanan masih di atas 60 derajat, sehingga makanan tetap fresh, dan meminimalisir potensi kontaminasi bakteri," tuturnya.
Siswa Dilibatkan sebagai Relawan Penyaji
Pelaksanaan uji coba menempatkan siswa sebagai relawan yang membantu proses penyajian. Mereka yang menentukan porsi untuk teman-temannya.
Menurut Jannus, keterlibatan siswa membuat porsi lebih sesuai kebutuhan masing-masing anak. Cara ini juga menekan potensi makanan tersisa.
"Relawan dari anak-anak sekolah, yang memberikan porsi juga anak-anak sekolah. Mereka mengetahui takaran untuk teman-temannya, apakah perlu makanan cukup banyak atau sedikit," jelasnya.
Edukasi Gizi Sebelum Makan
Guru memberikan penjelasan kepada siswa mengenai menu yang disajikan sebelum makan. Penjelasan mencakup kandungan kalori dan gizi dalam makanan.
Dengan cara itu, siswa tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga mendapat pengetahuan soal pentingnya asupan gizi bagi kesehatan dan pertumbuhan.
Hasil Uji Coba Jadi Tolok Ukur Nasional
Pelaksanaan MBG pola prasmanan masih dalam tahap uji coba. Hasilnya akan dianalisis dan dievaluasi untuk mengetahui efektivitasnya dibandingkan sistem ompreng.
"Namanya juga uji coba. Kita perlu melakukan analisa apakah ini bermanfaat dan efektif terkait pola MBG prasmanan dibandingkan menggunakan ompreng sebelumnya," ujar Jannus.
Hasil evaluasi akan menjadi bahan masukan yang disampaikan ke pemerintah pusat. Uji coba serupa juga berlangsung di sejumlah wilayah lain di Indonesia.
"Ini akan menjadi tolak ukur dan akan kita sampaikan ke pusat. Bukan hanya di Papua, di beberapa wilayah seperti Sumatera dan Jawa juga melakukan hal yang sama, khusus di SPPG yang dikelola oleh Yayasan Kemala Bhayangkari," tegasnya.
Evaluasi nantinya menentukan sejauh mana pola prasmanan bisa diterapkan secara efektif dalam pelaksanaan MBG. Jika dinilai efektif, pola tersebut akan diterapkan di SPPG se-Indonesia.