JAYAPURA — Gerakan Literasi Tuuwone tidak sekadar mengajak membaca dan menulis. Lebih dari itu, inisiatif yang digerakkan oleh mahasiswa asal Puncak Jaya ini dirancang sebagai ruang dialektika dan perlawanan terhadap keterbelakangan pendidikan yang masih membayangi sebagian wilayah Papua.
Deklarasi perdana digelar di Asrama Kinaonak, Jayapura, dengan menghadirkan sejumlah tokoh seperti Yunus Wonda, Yumin Wonda, Pdt. Paipen Wonda, pegiat literasi Maiton Gurik, senior DPR Jayapura Kilion Kogoya, dan Daniel Telenggen. Kehadiran mereka memberikan legitimasi moral terhadap gerakan yang lahir dari kesadaran kolektif generasi muda ini.
Dalam bahasa setempat, "Tuuwone" memiliki makna filosofis sebagai jalan menuju pemikiran dan ruang pertumbuhan intelektual. Nama ini dipilih untuk menegaskan harapan lahirnya generasi Puncak Jaya yang sadar akan ilmu pengetahuan, kepemimpinan, dan masa depan daerahnya.
Para penggagas gerakan—Otty Telenggen, Yohanes Lambe, Nefron Enumbi, dan Depenus Tembak—berkeyakinan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam. Kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama yang harus dibangun sejak dini.
Literasi Tuuwone memiliki enam target utama. Pertama, memberantas buta aksara dan rendahnya budaya membaca di kalangan generasi muda. Kedua, membangun ruang diskusi dan dialektika intelektual bagi mahasiswa dan pelajar Puncak Jaya.
Ketiga, mendorong lahirnya generasi yang kritis, berpendidikan, dan memiliki kesadaran sosial. Keempat, mengembangkan kualitas SDM sebagai fondasi pembangunan daerah. Kelima, menjadikan pendidikan sebagai jalan memerdekakan masyarakat dari ketertinggalan dan keterisolasian. Keenam, menumbuhkan semangat kepemimpinan dan tanggung jawab generasi muda terhadap masa depan Papua.
Secara konseptual, gerakan ini memandang literasi sebagai alat pembebasan sosial. Bukan hanya kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan juga kesadaran kritis dalam melihat realitas kehidupan dan tantangan pembangunan daerah.
Melalui seminar, diskusi, pelatihan menulis, dan sesi membaca buku, Literasi Tuuwone berupaya membangun karakter generasi yang berpikir maju namun tetap berpijak pada nilai budaya dan identitas Papua. Gerakan ini menegaskan bahwa pembangunan Papua harus dimulai dari pembangunan manusia yang sadar akan ilmu pengetahuan, moralitas, dan tanggung jawab sosial.
Literasi Tuuwone lahir dari dalam, bukan instruksi dari luar. Para penggeraknya adalah mahasiswa dan pemuda yang sehari-hari bergelut dengan persoalan pendidikan di daerah asal mereka. Mereka melihat langsung bagaimana minimnya akses terhadap bahan bacaan dan ruang diskusi membatasi cara berpikir generasi muda.
Gerakan ini menjadi simbol kebangkitan intelektual anak-anak Papua. Dengan menjadikan pendidikan sebagai jalan pembebasan, Literasi Tuuwone diharapkan mampu melahirkan generasi yang kritis, berkarakter, dan siap menjadi pelopor pembangunan daerah di masa depan.