PAPUA — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 37 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp17.844 per dolar AS pada Senin (1/6) pagi. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri; hampir seluruh mata uang Asia kompak berada di zona merah. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,71 persen.
Mata uang utama negara maju juga tak luput dari tekanan. Euro, poundsterling, dan franc Swiss semuanya melemah terhadap greenback. Kondisi ini memperkuat dominasi dolar AS di pasar global, yang kerap menjadi safe haven saat ketidakpastian geopolitik meninggi.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah saat ini berada dalam fase konsolidasi. Dua faktor utama menjadi penentu: kelanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta data perekonomian domestik yang akan dirilis besok.
"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6). Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS hari ini.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan tambahan yang bersifat musiman. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, kebutuhan dolar AS meningkat untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen. Hal ini terjadi di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas, sehingga menambah beban bagi nilai tukar rupiah.
Meski tekanan cukup besar, ada satu faktor yang bisa menjadi penyeimbang. Harga minyak mentah yang sudah menurun dinilai dapat mendukung pergerakan rupiah ke depan. Sebagai negara pengimpor minyak, penurunan harga komoditas ini berpotensi mengurangi beban impor energi Indonesia.
BI sendiri menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi di pasar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan. Instrumen intervensi yang digunakan meliputi operasi moneter hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah kerap menjadi sentimen negatif karena meningkatkan risiko nilai tukar, terutama bagi emiten yang memiliki utang dalam dolar AS atau ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Sementara itu, pelaku bisnis di sektor ekspor justru bisa diuntungkan karena daya saing produk di pasar global meningkat.
Bagi masyarakat umum, dampak paling terasa adalah potensi kenaikan harga barang impor, mulai dari elektronik hingga bahan pangan tertentu. Namun, BI dipastikan akan terus menjaga stabilitas agar gejolak tidak meluas ke sektor riil.
Investasi mengandung risiko.