PAPUA — Mohamad Rifki Rabani, mekanik spesialis dari bengkel STB EV, menjelaskan bahwa seiring pemakaian harian, pola pengisian daya dan penggunaan listrik secara perlahan membuat arus di dalam baterai tipe SLA tidak lagi seragam. Kondisi ini berbeda dari baterai lithium yang umumnya punya sistem manajemen internal lebih canggih.
"Nanti, lama kelamaan ketika dicas, masuk arusnya tidak sama. Ya, karena arusnya tidak seimbang," ujar Rifki kepada Kompas.com, belum lama ini.
Rifki menganalogikan efek dari baterai yang tidak pernah dikalibrasi dengan masalah pada kendaraan konvensional. Pada motor listrik, tenaga yang dikirim ke roda belakang menjadi tidak smooth alias tersendat-sendat saat pedal gas diputar.
"Kalau di mobil, kayak mesin mati satu pengapiannya, jadi kayak pincang gitu," jelasnya.
Gejala ini muncul karena sel-sel di dalam baterai memiliki tegangan yang berbeda. Saat aki diminta melepas daya, sel yang lebih lemah jadi 'tarikan' dan membuat suplai listrik ke motor penggerak tidak stabil.
Proses kalibrasi atau balancing ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Bengkel spesialis seperti STB EV memiliki peralatan khusus untuk mengosongkan dan mengisi ulang tiap sel secara merata.
"Sebenarnya, setiap 6 bulan sekali itu perlu di-balancing ulang atau kalibrasi. Untuk kalibrasi baterai, itu biayanya Rp 200.000, sudah termasuk jasa," kata Rifki.
Biaya tersebut terbilang ringan jika dibandingkan dengan ongkos membeli unit baterai SLA baru yang bisa mencapai jutaan rupiah. Untuk motor listrik entry-level, harga baterai pengganti kerap menyentuh sepertiga dari harga kendaraan itu sendiri.
Pemilik motor listrik, khususnya model lawas atau entry-level yang masih mengandalkan baterai SLA, disarankan memasukkan jadwal kalibrasi ini ke dalam buku servis rutin. Jangan menunggu motor mulai tersendat baru dibawa ke bengkel, karena sel yang sudah terlalu tidak seimbang bisa sulit dipulihkan sempurna.
Dengan perawatan berkala yang tepat, usia pakai baterai bisa diperpanjang secara signifikan. Ini sejalan dengan ekosistem kendaraan ramah lingkungan yang tengah digenjot pemerintah Indonesia, di mana biaya operasional rendah menjadi daya tarik utama motor listrik bagi konsumen lokal.