JAYAPURA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar ribuan pelajar di Kota Jayapura menuai catatan kritis dari sekolah penerima. Dalam peninjauan langsung ke SD Negeri Inpres 1 APO, SD Negeri Inpres 2 APO, dan SMP Negeri 1 Jayapura, Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (KEPP Otsus) Papua, Yanni, menjaring setidaknya lima masalah utama yang perlu segera dibenahi.
Kepala SD Negeri Inpres 2 APO, Dewi Hutagaul, menyebut variasi menu menjadi keluhan utama. Selama program berjalan, protein hewani yang disajikan hampir setiap hari hanya bergantian antara telur dan ayam.
"Hari ini telur, besok ayam, kemudian kembali lagi telur dan ayam. Kalau menunya lebih bervariasi tentu anak-anak lebih bersemangat," ujar Dewi.
Masalah kualitas bahan pangan juga mencuat. Dewi mencontohkan, pisang yang diterima siswa kerap dalam kondisi tidak segar, sementara jeruk yang disajikan masih terlalu muda sehingga rasanya asam bagi anak-anak.
Catatan lebih serius datang dari Kepala SD Negeri Inpres 1 APO, Matilda Noya. Ia pernah menerima laporan adanya sayuran yang belum dibersihkan secara sempurna hingga ditemukan cacing berukuran kecil di dalamnya.
"Kami berharap kebersihan makanan semakin diperhatikan," tegas Matilda.
Ketepatan waktu distribusi juga menjadi sorotan. Matilda menjelaskan, beberapa kali makanan tiba mendekati akhir jam belajar sehingga tidak seluruh siswa dapat menikmatinya dengan baik. Ia mengusulkan agar lokasi dapur penyedia makanan ditempatkan lebih dekat dengan sekolah-sekolah penerima manfaat.
"Jarak yang lebih dekat diyakini dapat membantu menjaga kualitas makanan sekaligus mempermudah pengawasan," ujarnya.
Usai berdialog dengan pihak sekolah, Yanni langsung menuju Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bhayangkara di Dok II. Ia ingin memastikan penyebab penghentian distribusi MBG yang dikeluhkan sejumlah sekolah selama beberapa hari terakhir.
Kepala SPPG Jayapura Bhayangkara, Abraham Daondi, menjelaskan bahwa penghentian sementara itu berkaitan dengan proses penyesuaian anggaran dari Badan Gizi Nasional (BGN). Kondisi itu berdampak pada operasional dapur yang melayani 15 sekolah dengan total 3.439 siswa.
Yanni menilai kualitas makanan dan ketepatan distribusi menjadi faktor penting dalam pelaksanaan MBG. Menurut dia, manfaat program akan semakin terasa apabila menu yang disajikan memenuhi standar gizi, tiba tepat waktu, dan diterima siswa dalam kondisi baik.
"Program ini sangat baik dan manfaatnya besar bagi anak-anak. Masukan dari sekolah penting untuk memastikan pelaksanaannya terus membaik," kata Yanni.
Ia berjanji akan membawa seluruh temuan dan hasil evaluasi dari Jayapura ke tingkat nasional sebagai bahan perbaikan ke depan.