JAYAPURA — Suasana berbeda menyelimuti kawasan Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, pada Minggu sore. Ratusan jemaat dari berbagai denominasi gereja berkumpul mengikuti Ibadah Pemulihan Papua yang digelar oleh Risen Community.
Peserta yang mengenakan pakaian putih itu sebelumnya berkumpul di Lapangan Cigombong, Kotaraja. Mereka berjalan kaki menuju lokasi ibadah sambil membawa salib dan poster-poster rohani. Di tengah aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas, mereka menyanyikan pujian, mendengarkan firman Tuhan, hingga meniup sangkakala.
Sekretaris Risen Community Kota Jayapura, Maria Demetouw, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk doa bersama sekaligus seruan pertobatan. Menurutnya, kondisi di tanah Papua saat ini mendorong warga untuk sungguh-sungguh datang kepada Tuhan.
“Kita melihat kondisi yang terjadi di tanah Papua. Karena itu orang Papua perlu sungguh-sungguh datang kepada Tuhan, berbalik dari hal-hal yang jahat, dan merindukan pemulihan bagi kota ini,” ujarnya usai ibadah.
Maria menambahkan, perubahan tidak cukup hanya dengan berteriak meminta perubahan. Setiap orang juga harus mengubah hidup sendiri dan melakukan perbuatan baik yang memuliakan Tuhan.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai gereja, di antaranya GIDI, GKI, Gereja Katolik, GBI, Gereja Pentakosta, dan sejumlah denominasi lainnya. “Semua memiliki kerinduan yang sama untuk melihat generasi Papua ditolong dan diubahkan oleh Tuhan,” kata Maria.
Ketua Risen Community Kota Jayapura, Renny Fakdawer, menyebut kegiatan ini bertujuan mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin dekat kepada Tuhan dan menjauhi perilaku merusak. “Kita jangan mabuk-mabuk. Itu tujuan kegiatan ini,” ujarnya.
Risen Community merupakan komunitas lintas denominasi yang telah berjalan selama 11 tahun. Renny menjelaskan, kelompok ini memilih keluar dari gedung gereja untuk menjangkau mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
“Kami melihat selama ini banyak pelayanan hanya dilakukan di dalam gereja. Karena itu kami memilih keluar untuk menjangkau mereka yang membutuhkan pertolongan, seperti korban penyalahgunaan narkoba, ganja, maupun minuman keras,” katanya.
Komunitas ini rutin mengadakan persekutuan doa, pembacaan firman Tuhan, dan pelayanan sosial. Pembinaan mereka telah menjangkau sejumlah daerah di Papua seperti Merauke dan Biak, bahkan hingga Jakarta.
“Kami ingin mendidik anak-anak Papua agar memahami tujuan hidup yang Tuhan berikan kepada mereka. Jika seseorang tidak memahami tujuan hidupnya, maka hidupnya bisa berjalan tanpa arah,” tutur Renny.
Di akhir kegiatan, Renny berharap generasi muda Papua semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengambil peran dalam membawa perubahan positif. “Hanya Tuhan yang bisa menolong mereka dan menolong Papua. Itu harapan saya,” pungkasnya.