GM Energy Umumkan Dukungan V2G dan Baterai Sodium-Ion untuk Penyimpanan Energi, Target Kurangi Beban Listrik Data Center AI

Penulis: Vicky Prasetya  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 21:44:01 WIB
GM perkenalkan teknologi V2G untuk memungkinkan mobil listrik mengalirkan listrik ke jaringan.

Dalam sebuah acara di San Francisco pekan ini, GM memamerkan bahwa ekosistem energi mereka tidak lagi sekadar mengisi daya mobil. Kini, pemilik EV GM yang kompatibel bisa menjual kelebihan listrik dari baterai mobil mereka kembali ke jaringan listrik (grid) melalui skema V2G. Ini adalah lompatan dari fitur sebelumnya yang hanya mendukung vehicle-to-home (V2H) — di mana mobil hanya bisa memasok listrik ke rumah saat pemadaman.

Mobil Listrik Jadi "Pembangkit" Roda Empat

Konsep bidirectional charging ini bukan hal baru, tapi skala implementasi GM yang membuatnya berbeda. Perusahaan mengklaim sudah ada lebih dari seperempat juta EV berteknologi V2G yang melintas di jalan raya AS. Bayangkan: jika ribuan mobil ini terhubung ke grid secara simultan, kapasitas daya yang bisa disalurkan setara dengan pembangkit listrik skala kecil.

Untuk merealisasikannya, GM menggandeng dua utilitas raksasa: PG&E di California dan DTE Energy di Michigan sebagai mitra peluncur. Artinya, pengguna EV GM di dua negara bagian itu akan menjadi yang pertama bisa mendapat insentif finansial dari partisipasi mereka dalam program keseimbangan beban listrik.

Sodium-Ion: Baterai Murah untuk Data Center AI

Di sisi lain, GM Energy juga mengumumkan kemitraan dengan Peak Energy untuk mengembangkan baterai sodium-ion. Bukan untuk mobil, melainkan untuk solusi penyimpanan energi stasioner — seperti bank daya raksasa di rumah atau gedung perkantoran. Teknologi ini menjadi krusial karena ledakan pusat data AI yang haus listrik mulai menggerus cadangan daya nasional.

Baterai sodium-ion jauh lebih murah daripada lithium-ion karena bahan bakunya — garam dan natrium — melimpah di bumi. Harganya bisa 30-40 persen lebih rendah, meskipun kepadatan energinya juga lebih rendah. Tapi untuk aplikasi penyimpanan energi statis yang tidak perlu ringan, ini adalah solusi ideal.

Mengapa GM Tidak Menyerah pada EV?

Penjualan EV global memang melambat setelah gelombang pembelian besar-besaran di akhir tahun lalu saat insentif federal AS mulai dipangkas. Namun, GM tetap konsisten dengan strategi elektrifikasi penuh di semua lini mereknya — dari Chevrolet hingga Cadillac. Langkah energi terbaru ini menunjukkan bahwa GM tidak hanya menjual mobil, tapi juga menjual infrastruktur energi sebagai layanan.

Dengan kata lain, mobil listrik GM kini menjadi aset energi yang bisa menghasilkan uang bagi pemiliknya, sekaligus menjadi bantalan bagi jaringan listrik yang kewalahan. Bagi Indonesia, di mana beban listrik juga meningkat dan pemadaman masih terjadi di beberapa wilayah, model bisnis V2G dan baterai murah seperti sodium-ion bisa menjadi peta jalan yang menarik untuk diadopsi — meskipun regulasi dan infrastruktur PLN masih perlu beradaptasi.

Reporter: Vicky Prasetya
Back to top