TELUK WONDAMA — Ratusan ibu-ibu Papua yang biasa berjualan sayur, ubi, dan pinang di Pasar Sentral Iriati akhirnya mendapat pembeli dari kalangan wakil rakyat. Anggota DPRK Teluk Wondama dari Dapil III sengaja menyisihkan waktu di sela reses untuk berbelanja langsung di lapangan, setelah mendengar keluhan pedagang yang dagangannya kerap layu dan terbuang sia-sia.
"Jadi ini adalah bentuk respons kami DPRK Teluk Wondama terutama dari Dapil III terkait pasar yang sepi sehingga mama-mama Papua yang berjualan di sini tidak mendapatkan pemasukan," kata Soleman JP Karubuy di Kampung Iriati, Senin (10/8/2026).
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Sentral Iriati yang dibangun dengan dana besar itu nyaris tidak pernah ramai dikunjungi pembeli. Akibatnya, hasil kebun seperti sayur mayur, ubi-ubian, hingga ikan sering kali membusuk sebelum laku terjual.
Eliakim Marani, warga Kampung Iriati, menyampaikan keprihatinannya saat tatap muka dengan anggota dewan di Kantor Kampung Iriati. "Sayur itu tinggal sampai layu dan dorang buang. Kami minta pasar itu harus diperhatikan," ujarnya.
Anggota DPRK Wondama dari Partai Nasdem, Harun Salu, menegaskan bahwa kunjungan kali ini bukan sekadar aksi simbolis. Pihaknya akan membawa temuan lapangan ini ke pemerintah kabupaten untuk mendorong kebijakan pemulihan pasar.
"Memang sudah sering kami menerima laporan soal pasar yang sepi (pembeli). Jadi dalam reses II ini kami ingin melihat langsung kondisi di Pasar Iriati sekaligus kami berbelanja supaya Mama-mama Papua yang berjualan ini ada dapat pemasukan, walaupun tidak banyak," ungkap Harun.
Soleman menambahkan, kondisi ini dipengaruhi oleh melemahnya daya beli masyarakat secara nasional. "Sehingga kami tadi bersepakat untuk lakukan reses sekaligus datang berbelanja di sini, walaupun sedikit tapi bisa ada yang didapat oleh mama-mama penjual di sini," lanjutnya.
Para pedagang di Pasar Sentral Iriati menyambut baik langkah anggota dewan yang langsung turun berbelanja. Namun, mereka berharap perhatian terhadap pasar tidak berhenti pada satu kali kunjungan.
"Kami senang kalau (anggota) DPR datang belanja di pasar. Tetapi, yang kami harap jangan satu kali saja. Harus sering-sering datang lihat masyarakat di pasar ini. Karena pasar ini sepi terus jadi dorang harus sering datang di sini, perhatikan, karena masyarakat yang pilih mereka," tutur seorang mama Papua yang berjualan pinang dan sagu.