PAPUA — Indeks Harga Saham Gabungan diprakirakan bergerak konsolidasi pada kisaran 6.000-6.200 seiring pelaku pasar menantikan rilis data inflasi dan neraca perdagangan dari Badan Pusat Statistik. Konsensus memperkirakan inflasi September 2026 naik menjadi 0,31% secara bulanan, dari 0,21% pada Agustus.
Phintraco Sekuritas menyebut secara teknikal IHSG masih belum menemukan momentum keluar dari rentang konsolidasi. Pada perdagangan sebelumnya, indeks ditutup turun 0,83% ke level 6.071.
Penurunan itu dibarengi aksi jual bersih investor asing senilai Rp1,56 triliun. Lima saham yang paling banyak dilepas asing adalah TLKM, BMRI, BBCA, ASII, dan BBRI.
Pasar menanti data inflasi domestik yang akan dirilis BPS hari ini. Konsensus memperkirakan inflasi bulanan naik menjadi 0,31% pada September 2026, dari 0,21% pada Agustus.
Secara tahunan, inflasi diperkirakan menjadi 3,3% pada September, naik dibandingkan Agustus yang tercatat 3,19% year on year. Inflasi inti juga diproyeksikan meningkat menjadi 3% secara tahunan, dari 2,92% pada bulan sebelumnya.
"Investor menantikan data inflasi domestik yang menurut konsensus akan terjadi kenaikan menjadi 0,31 secara bulanan di September 2026," kata Tim Analis Pasar Modal Phintraco Sekuritas.
Kenaikan inflasi itu menjadi sinyal bahwa harga kebutuhan hidup mulai merangkak naik. Bagi investor, arah inflasi akan menentukan ruang gerak Bank Indonesia dalam mempertahankan atau menyesuaikan suku bunga acuan.
Phintraco juga mencermati anggaran subsidi pemerintah dalam APBN 2027 sebesar Rp261,5 triliun. Angka itu turun Rp11,4 triliun dari rencana awal dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2027 yang sebesar Rp272,94 triliun.
Pemangkasan anggaran subsidi menjadi perhatian karena bisa berdampak pada harga energi di tingkat konsumen. Jika kenaikan harga minyak berlanjut hingga tahun depan, tekanan inflasi berpotensi bertahan di level tinggi.
"Jika kenaikan harga minyak berlanjut hingga tahun depan, maka berpotensi membuat inflasi cenderung bertahan di level tinggi," ucap Tim Phintraco.
Selain inflasi, BPS hari ini juga merilis data neraca perdagangan Indonesia. Phintraco memprakirakan surplus meningkat menjadi USD600 juta pada Agustus 2026, dari USD130 juta pada Juli 2026.
Namun pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 4,2% secara tahunan pada Agustus. Pada Juli, pertumbuhan ekspor masih mencapai 6,05%.
Di sisi lain, impor diproyeksikan justru berakselerasi menjadi 31,7% pada Agustus 2026. Sebelumnya, pertumbuhan impor hanya 7% secara tahunan.
"Namun pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 4,2 persen secara tahunan di bulan Agustus. Pada bulan Juli pertumbuhan ekspor mencapai 6,05 persen," ujar Tim Phintraco.
Dari sisi manufaktur, indeks S&P Global Manufacturing PMI diperkirakan kembali naik ke level ekspansi 50,3 pada September. Pada bulan sebelumnya, indeks PMI manufaktur Indonesia berada di level kontraksi 49,8.
Bagi pelaku pasar, kombinasi data inflasi, neraca perdagangan, dan PMI akan menjadi penentu apakah IHSG mampu keluar dari rentang konsolidasi atau kembali tertekan aksi jual asing.