PAPUA — PT PLN (Persero) UID Riau dan Kepri menargetkan penyalaan listrik di 103 lokasi Kepulauan Riau sepanjang 2025-2029, dengan potensi melayani sekitar 5.400 pelanggan baru. Program Listrik Perdesaan (Lisdes) ini menyasar wilayah kepulauan yang belum teraliri listrik, dan lima lokasi sudah menyala hingga Triwulan II 2026.
Paragraf pembuka: General Manager PLN UID Riau dan Kepri, Didik Wicaksono, menegaskan bahwa percepatan penyalaan listrik di wilayah kepulauan tidak bisa berjalan sendiri. Perusahaan setempat menggandeng pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan setiap usulan lokasi punya tindak lanjut yang jelas, bukan sekadar masuk daftar perencanaan.
PLN UID Riau dan Kepri menggelar forum sinkronisasi di Kantor PLN Batam. Forum itu mempertemukan perusahaan dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait untuk menyelaraskan usulan lokasi, menyiapkan lahan, dan merampungkan perizinan.
Kejelasan lokasi, kesiapan lahan, dan kelengkapan izin menjadi syarat sebelum pembangunan fisik di lapangan dimulai. Tanpa ketiganya, jadwal penyalaan bisa mundur.
"Melalui forum ini, kami ingin memastikan setiap usulan tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi memiliki kejelasan tindak lanjut sehingga pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan manfaat listrik dapat segera dirasakan masyarakat," ujar Didik.
Dalam Roadmap Lisdes 2025-2029, sebanyak 103 lokasi di Kepulauan Riau masuk sasaran pengembangan jaringan listrik. Hingga Triwulan II 2026, listrik baru menyala di lima lokasi. Artinya, masih ada 98 lokasi yang menunggu sinkronisasi dan pembangunan jaringan.
PLN bersama pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait melanjutkan koordinasi untuk mempercepat pembangunan di lokasi sisanya. Target akhirnya adalah sekitar 5.400 pelanggan baru yang bisa menikmati listrik dari jaringan PLN.
Warga di wilayah kepulauan yang selama ini mengandalkan pembangkit mandiri atau belum menikmati listrik akan merasakan perubahan langsung. Akses listrik membuka peluang menjalankan usaha, mengakses pendidikan, dan memperbaiki kualitas hidup sehari-hari.
Bagi PLN, percepatan penyalaan di wilayah terpencil menjadi bagian dari pemerataan akses energi yang selama ini terkonsentrasi di kawasan perkotaan. Tantangan geografis kepulauan membuat koordinasi lokasi dan perizinan lebih rumit dibanding wilayah daratan, sehingga kolaborasi lintas instansi menjadi penentu.
Penutup: Keberhasilan Program Lisdes di Kepulauan Riau akan menjadi tolok ukur percepatan listrik perdesaan di wilayah kepulauan Indonesia. Dengan 98 lokasi yang masih dalam proses sinkronisasi, target 5.400 pelanggan baru menempatkan program ini sebagai salah satu upaya konkret pemerataan energi di luar Jawa.