Roti Petatas Bread is Home Jayapura Tembus 3.000 Produk per Bulan, Libatkan Siswa SLB dan Ibu Tunggal

Penulis: Sofyan Basri  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:01:02 WIB
Roti Petatas Bread is Home memproduksi hingga 3.000 produk per bulan di Jayapura.

JAYAPURA — Usaha roti Bread is Home berawal dari dapur rumah di Jayapura pada 2020, saat Juli pindah dari Jakarta mengikuti sang suami. Kala itu, harga produk oleh-oleh di Papua terbilang mahal, sementara ia butuh asupan makanan yang sesuai untuk anaknya yang berkebutuhan khusus. Juli lantas membuat alternatif lebih terjangkau dengan memanfaatkan bahan pangan lokal seperti sagu.

Dari Dapur Rumah ke Sejumlah Kafe di Jayapura

Respons warga dan wisatawan datang tak lama setelah produk pertama dijual. Pesanan sebagai oleh-oleh khas Papua terus bertambah, meski Juli mengaku sempat ragu karena skala usahanya masih kecil.

Ia kemudian mencari program pemberdayaan UMKM perempuan dan bergabung dengan SisBerdaya yang digelar DANA bersama Ant International Foundation. Lewat program itu, Juli mempelajari public speaking, psikologi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk bisnis.

Hasilnya, kerja sama dengan Meja Kopi di Jayapura terbuka. Dari satu kafe, Bread is Home memperluas jaringan ke sejumlah kafe lain.

"Dari satu kafe, akhirnya saya mulai membuka kerja sama dengan kafe-kafe lainnya," ujar Juli dikutip dari keterangan resmi, Selasa (6/10/2026).

Petatas dan Sagu Jadi Roti Modern

Selain sagu, Juli dan sang suami mengolah petatas, sejenis ubi yang menjadi pangan lokal khas Papua, menjadi roti modern. Produk ini diposisikan sebagai oleh-oleh yang pas dinikmati bersama kopi Papua.

"Saya berpikir bagaimana bahan pangan lokal seperti petatas bisa diolah menjadi sesuatu yang lebih modern, tetapi tetap punya identitas Papua," ujar Juli.

Saat ini produk Bread is Home dipasarkan melalui Embai Coffee and Roastery, Sandyakala, Meja Kopi, dan Hujan Sore di Jayapura.

Ruang Belajar bagi Siswa SLB 1 Jayapura

Pengalaman membesarkan anak berkebutuhan khusus membawa Juli pada misi yang lebih luas. Bread is Home membuka kesempatan bagi siswa SLB 1 Jayapura, tempat anaknya bersekolah, untuk mendapat pengalaman langsung dalam proses pembuatan roti.

Usaha ini juga mengembangkan kurikulum keterampilan baking dan memberikan pelatihan kepada para orang tua. Ibu rumah tangga serta ibu tunggal di lingkungan sekitar turut dilibatkan agar punya ruang berkarya dan tumbuh lebih mandiri.

Rencana Toko Fisik dan Baking Studio

Dalam jangka panjang, Juli berencana membangun toko fisik, open kitchen, dan baking studio sebagai pusat oleh-oleh di Papua. Tempat itu diharapkan bukan sekadar ruang usaha, melainkan juga ruang belajar soal bakery, pangan lokal, kewirausahaan, dan inklusivitas.

Pertumbuhan produksi Bread is Home tercatat sekitar 135 persen, dari 1.300 menjadi 2.800 hingga 3.300 produk per bulan. Bagi Juli, angka itu bukan satu-satunya ukuran, sebab pertumbuhan usaha juga berarti membuka lebih banyak peluang bagi anak berkebutuhan khusus untuk belajar, berkarya, dan menjadi lebih mandiri.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: mojok.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top