TELUK BINTUNI — Dalam kebiasaan memasak masyarakat Papua Barat, tungku tidak pernah ditopang satu batu. Dibutuhkan tiga batu yang kokoh dan seimbang agar periuk tidak miring dan api tetap menghangatkan. Filosofi Satu Tungku Tiga Batu itulah yang dipakai warga Teluk Bintuni untuk membaca kehidupan bersama: tiga batu sebagai penyangga, tiga keyakinan sebagai penghuni rumah yang sama.
Muksin Inai, anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Teluk Bintuni, menuliskan gagasan ini sebagai renungan atas praktik kerukunan yang berlangsung sehari-hari di tanah Papua. Ia menyoroti satu hal yang jarang dibicarakan dalam forum formal: kerukunan di sana tidak lahir dari ruang seminar.
Ketika Satu Keluarga Berbeda Iman tapi Satu Meja Saat Pesta Adat
Gambaran yang ia angkat cukup konkret. Seorang ayah menunaikan salat di masjid, saudaranya beribadah di gereja Protestan, sementara keponakannya mengikuti misa di gereja Katolik. Ketika ada pesta adat, pernikahan, syukuran, atau duka keluarga, mereka duduk di meja yang sama.
Ikatan itu tidak dibangun oleh program pemerintah. Kerukunan tumbuh dari hubungan darah, kekerabatan, dan tradisi kawin-mawin yang berlangsung turun-temurun antarwarga beda agama di Papua Barat.
Di titik itu adat mengambil peran sebagai payung bersama. Adat disebut telah hadir jauh sebelum agama-agama besar masuk ke tanah Papua, dan tidak menghapus keyakinan seseorang.
Adat Tidak Menggantikan Iman, tapi Menyediakan Bahasa Kekerabatan
Muksin menilai anggapan bahwa agama dan budaya lokal adalah dua kutub yang saling berhadapan tidak sepenuhnya tepat. Pengalaman masyarakat Papua Barat, menurutnya, menunjukkan hal sebaliknya.
"Adat tidak menggantikan iman, tetapi menyediakan ruang dan bahasa kekerabatan yang memungkinkan keberagaman hidup dalam keharmonisan," tulisnya.
Dalam perspektif sosiologi agama, kondisi ini dibaca sebagai modal sosial yang kuat. Ikatan adat menciptakan rasa saling percaya, mempererat solidaritas, dan menjadi jembatan penghubung antarkelompok yang berbeda keyakinan.
Migrasi dan Politik Identitas Jadi Ancaman Nyata
Muksin mengingatkan nilai itu tidak bertahan dengan sendirinya. Arus migrasi, menguatnya politik identitas, dan sentimen yang menyebar lewat media sosial disebut dapat mengikis makna simbolis tiga batu penyangga tersebut.
Jika tidak dirawat, ruang kebersamaan yang sudah terbangun berisiko mengalami keretakan. Peringatan ini relevan mengingat media sosial kini menjadi kanal utama penyebaran sentimen keagamaan di banyak daerah.
Merawat Tradisi Butuh Cerita Orang Tua dan Kebijakan Daerah
Menjaga tradisi, menurut Muksin, tidak cukup dengan memuji dalam pidato atau menjadikannya slogan acara seremonial. Nilai itu harus diwariskan lewat cerita para orang tua, diperkenalkan dalam dunia pendidikan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menuntut nilai tersebut dihormati dalam setiap kebijakan pembangunan daerah. Toleransi yang paling kokoh, tulisnya, bukan yang dipaksakan dari atas, melainkan yang tumbuh dan diwariskan dari dalam keluarga.
"Jika tiga batu mampu menopang satu tungku, maka kita pun seharusnya mampu menopang satu bangsa," tulis Muksin, menutup renungan dari Teluk Bintuni itu.