PAPUA — Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menjajaki kerja sama riset dan pengembangan SDM dengan sejumlah perguruan tinggi Tiongkok, dengan fokus hilirisasi komoditas unggulan kawasan transmigrasi. Agenda ini mencakup kuliah umum di Peking University serta pertemuan dengan Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS). Kolaborasi diarahkan agar durian, kelapa, kopi, dan kakao dari daerah transmigrasi tidak lagi dijual sebagai bahan mentah.
Kementerian Transmigrasi menargetkan penelitian terapan yang bisa langsung dipakai di lapangan, bukan sekadar laporan akademik. Arahnya jelas: meningkatkan produktivitas pertanian, menarik investasi, dan memperluas lapangan kerja di kawasan transmigrasi.
Iftitah menyampaikan hal itu saat dijadwalkan memberi kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing. Di hadapan akademisi internasional, ia memaparkan transformasi transmigrasi Indonesia sebagai strategi pembangunan kawasan berbasis investasi dan industrialisasi.
Dalam keterangan tertulis Kementerian Transmigrasi, Iftitah menegaskan Indonesia butuh pengetahuan yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di daerah. Penelitian dinilai harus berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan warga setempat.
"Kita tidak hanya membutuhkan penelitian yang berakhir menjadi laporan. Kita membutuhkan pengetahuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan, bagaimana meningkatkan produktivitas, menarik investasi, membangun industri, dan memastikan masyarakat setempat memperoleh manfaat ekonominya," ujar Iftitah.
Salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan adalah riset pertanian modern dan pengolahan hasil pertanian. Pemerintah melihat peluang pemanfaatan teknologi untuk memperkuat industri lokal, sehingga komoditas dari kawasan transmigrasi tidak berhenti dijual sebagai bahan mentah.
Sejumlah komoditas unggulan daerah sudah dipetakan. Durian di Sulawesi Tengah, kelapa genjah di Nusa Tenggara Timur, kelapa di Maluku Utara, serta padi, kakao, kopi, dan tebu di Papua menjadi prioritas pengembangan.
Pemerintah ingin komoditas tersebut naik kelas hingga tahap pengolahan. Kerja sama yang dijajaki tidak hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga transfer teknologi, pengembangan industri, dan akses pasar.
"Kita punya durian, kelapa, kopi, kakao, dan banyak komoditas unggulan lainnya. Tetapi kita tidak ingin berhenti sebagai penghasil bahan mentah. Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan," kata Iftitah.
Pengembangan kawasan transmigrasi, menurut dia, perlu ditopang SDM yang mampu mengoperasikan teknologi dan mengembangkan industri. Kolaborasi dengan lembaga riset dan perguruan tinggi diharapkan memperkuat kapasitas tersebut.
Delegasi Indonesia dijadwalkan bertemu Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok, melibatkan CAAS dan Foreign Economic Cooperation Center (FEC). Agenda ini mencakup penjajakan teknologi produksi, pengolahan hasil pertanian, dan revitalisasi ekonomi pedesaan.
Selain agenda akademik, delegasi mengunjungi sejumlah pusat industri dan penelitian di Beijing, Chongqing, Hangzhou, Zhejiang, dan Shanghai. Kunjungan itu menyasar lembaga penelitian pertanian, industri manufaktur, teknologi lingkungan, hingga pengembangan pesawat.
Iftitah menegaskan pengalaman Tiongkok tidak akan diterapkan begitu saja. Model kerja sama dan teknologi yang dipelajari perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, budaya, lingkungan, serta kebutuhan masyarakat Indonesia.
"Kita belajar dari keberhasilan negara lain, tetapi tidak berarti harus meniru semuanya. Indonesia memiliki karakter dan keunggulannya sendiri. Yang ingin kita ambil adalah pengetahuan, teknologi, dan model kerja sama yang dapat membantu kita mempercepat pembangunan," ujar dia.
Bagi kawasan transmigrasi, arah kebijakan ini menentukan apakah daerah penghasil bakal naik kelas menjadi pusat pengolahan, atau tetap menjadi pemasok bahan mentah bagi industri di luar daerah.