PAPUA — Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba bersih bank only 22,3% secara tahunan hingga Agustus 2026, laju paling kencang di antara empat bank jumbo yang laporannya ditunggu pelaku pasar. Bank Central Asia tetap memimpin dari sisi besaran laba, sedangkan Bank Rakyat Indonesia unggul pada pendapatan bunga bersih. Laporan resmi kuartal III keempat emiten itu masih ditunggu untuk mengonfirmasi proyeksi analis.
Empat bank jumbo yang dimaksud adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Merujuk laporan keuangan bulanan masing-masing bank, BBCA membukukan laba bersih tahun berjalan terbesar hingga 31 Agustus 2026, yakni Rp 40,17 triliun. BMRI menyusul dengan Rp 37,48 triliun.
Dari sisi pendapatan bunga bersih pada periode yang sama, BBRI memimpin dengan Rp 77,25 triliun, disusul BMRI Rp 54,83 triliun. Kombinasi posisi laba dan pendapatan bunga itu membuat keempat emiten menjadi tolok ukur arah ekonomi makro sekaligus penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyoroti laju pertumbuhan laba keempat bank secara tahunan. BMRI tumbuh 22,41% menjadi Rp 37,48 triliun. BBNI tumbuh 6,89% menjadi Rp 14,32 triliun, BBRI tumbuh 6,63% menjadi Rp 32,61 triliun, dan BBCA tumbuh 2,85% menjadi Rp 40,17 triliun.
"Angka tersebut merupakan laba bersih bank only, bukan hasil konsolidasi," kata Elandry.
Pertumbuhan itu sejalan dengan data kinerja bank only hingga Agustus 2026 yang menempatkan BMRI di depan, disusul BBNI 6,9%, BBRI 6,6%, dan BBCA 2,9%. Pasar disebut masih menanti laporan resmi kuartal III untuk memastikan tren tersebut berlanjut hingga akhir periode.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai prospek bank jumbo pada kuartal III masih konstruktif, meski laju pertumbuhannya diperkirakan bervariasi. Tiga indikator yang paling diperhatikan pasar menurutnya adalah pertumbuhan kredit, kemampuan menjaga net interest margin (NIM), dan pertumbuhan laba bersih.
"Pertumbuhannya berpotensi bervariasi di tengah kondisi daya beli masyarakat, biaya dana (cost of fund), serta kebutuhan menjaga kualitas aset," kata Nafan.
Ia menambahkan, bank yang mampu menyalurkan kredit dengan biaya dana terkendali dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang terjaga berpeluang mencatat kinerja paling solid.
Nafan memetakan keunggulan tiap bank. BBCA ditopang kualitas aset, likuiditas, dan basis dana murah atau CASA. BMRI berpotensi ditopang diversifikasi kredit korporasi dan komersial, sedangkan BBRI punya peluang pemulihan bila penyaluran kredit mikro membaik dan biaya kredit mulai terkendali. BBNI disebut berpotensi mendapat dukungan dari efisiensi operasional, optimalisasi portofolio kredit, serta perbaikan kualitas aset.
"Untuk proyeksi kuartal ketiga 2026, saya cenderung menempatkan BMRI sebagai kandidat pemimpin pertumbuhan laba, sementara BBCA tetap unggul dari sisi besaran laba dan kualitas fundamental," kata Nafan.
Catatan lain datang dari sisi beban pencadangan. BBNI berpeluang mencatat perbaikan bila beban pencadangan melandai. BBRI membutuhkan pemulihan margin bunga dan kualitas kredit mikro agar pertumbuhan labanya lebih kuat. BBCA tetap didukung fundamental kuat, terutama dana murah dan kualitas aset.
Elandry mengingatkan, pertumbuhan kredit ke depan masih berpeluang positif, tetapi perlu diimbangi pengelolaan likuiditas, biaya dana, dan risiko kredit. Pasar juga menanti laporan bursa pada triwulan kedua tahun ini, ketika 956 emiten wajib menyampaikan laporan keuangan interim secara kuartalan.
"Namun, proyeksi akhir kuartal III tetap perlu dikonfirmasi melalui laporan keuangan resmi," kata Elandry.