PAPUA — Dodge Charger Daytona EV menelan biaya sewa Rp 1.486 per bulan sebelum pajak, sementara Charger Scat Pack bermesin Hurricane hanya sekitar Rp 733 per bulan. Selisih harga jual hanya 9%, tapi biaya lease melonjak dua kali lipat karena nilai residu Daytona cuma 40% setelah tiga tahun. Angka ini muncul saat penjualan Charger bensin mengalahkan versi listrik hampir 15 banding 1.
Data dari CarsDirect mengungkap jurang biaya sewa antara dua varian Charger generasi terbaru. Charger Daytona Scat Pack 2026 dibanderol 60.690 dolar AS, sedangkan Charger Scat Pack dua pintu bermesin Hurricane hanya 55.690 dolar AS. Selisih harga jual keduanya tak sampai 10%, namun kalkulator pembayaran Dodge menghasilkan angka lease yang jauh berbeda.
Untuk varian listrik, Dodge menetapkan cicilan 1.312 dolar AS per bulan selama 36 bulan dengan uang muka 6.269 dolar AS. Setelah dihitung, beban bulanan efektifnya menyentuh 1.486 dolar AS sebelum pajak dan biaya administrasi. Angka ini berlaku untuk model yang mulai dijual tahun depan.
Charger Scat Pack bermesin Hurricane justru menawarkan cicilan 573 dolar AS per bulan dengan uang muka 5.769 dolar AS. Total beban bulanannya sekitar 733 dolar AS. Artinya, selisih harga jual 9% berubah menjadi lonjakan biaya sewa 103% di meja dealer.
Dengan angka tersebut, satu Daytona EV setara dengan hampir dua Charger bensin di halaman rumah. Masalahnya bukan cuma di harga sticker, melainkan pada struktur pembiayaan yang diterapkan Stellantis untuk model listrik.
Buletin leasing dealer edisi September yang dikutip CarsDirect menyebut Daytona diperkirakan hanya menyisakan 40% nilai setelah tiga tahun. Money factor-nya setara bunga 12,5%, tergolong sangat tinggi untuk kelas mobil ini. Sebagai pembanding, Charger bensin mempertahankan 67% nilai residu dengan suku bunga lease 5,4%.
Depresiasi dan biaya pembiayaan adalah dua variabel utama yang menentukan cicilan lease. Ketika nilai residu rendah, penyewa menanggung porsi depresiasi yang lebih besar setiap bulan. Ditambah bunga dua digit, wajar jika angka akhirnya membengkak.
Daytona sebelumnya sempat punya tawaran lease yang lebih masuk akal lewat varian R/T dengan sekitar 688 dolar AS per bulan. Varian tersebut hilang dari lineup 2026. Kredit pajak EV federal juga sudah tidak tersedia, sehingga Stellantis kehilangan alasan untuk mempermanis skema sewa.
Produsen EV pesaing masih gencar melempar diskon untuk menarik pembeli. Dodge memilih bertahan dengan angka apa adanya, sementara pasar memberi sinyal jelas: konsumen Amerika masih menempatkan uangnya di Charger bermesin bensin.
Sepanjang tahun berjalan, Charger bermesin Hurricane mengalahkan Daytona EV hampir 15 banding 1. Daytona memang pendekatan baru pada nama Charger, dengan powertrain listrik dan harga lebih tinggi. Pembeli muscle car klasik masih ragu berpindah, dan struktur lease saat ini tidak memberi dorongan untuk mencoba.
Bagi konsumen Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana nilai residu dan insentif pemerintah menentukan daya tarik kendaraan listrik. Tanpa dukungan fiskal dan residual value yang sehat, biaya kepemilikan EV bisa jauh melampaui versi pembakaran meski harga jualnya berdekatan.