JAYAPURA — General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, menyebut capaian 128 desa itu sebagai hasil kerja keras petugas di lapangan serta dukungan berbagai pihak. Menurutnya, keterbatasan geografis bukan alasan untuk menghentikan upaya menghadirkan energi bagi masyarakat pedalaman.
Program Lisdes menyasar desa-desa yang selama ini sulit dijangkau karena keterbatasan infrastruktur. Kehadiran listrik diharapkan tidak berhenti pada penerangan rumah warga, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi kampung.
Untuk merealisasikan program tersebut, PLN membangun infrastruktur kelistrikan dalam skala besar. Pembangunan mencakup jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 742,58 kilometer sirkuit (kms) dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 286,71 kms.
Gardu distribusi yang dipasang mencapai total kapasitas 7.450 kilovolt ampere (kVA). Infrastruktur itu menjadi tulang punggung aliran listrik ke kampung-kampung yang sebelumnya gelap.
Anggota Komisi XII DPR RI, Cheroline Chrisye Makalew, menilai keberhasilan PLN menghadirkan listrik di 128 desa sebagai perkembangan positif dalam mengatasi kesenjangan akses energi. Pemerataan listrik dinilainya bagian penting dari tanggung jawab negara memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
"Perluasan akses listrik ini merupakan kemajuan yang patut kita apresiasi dan dukung bersama. Kehadiran listrik bukan sekadar menerangi rumah warga, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi pendidikan, pelayanan kesehatan, serta membuka ruang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat di kampung-kampung," ungkap Cheroline.
Ia menambahkan, pemerataan elektrifikasi di Tanah Papua masih membutuhkan perhatian serius mengingat kondisi geografis yang menantang. Koordinasi antara PLN dan pemerintah daerah dinilai perlu diperkuat, terutama untuk memastikan keakuratan data desa, kampung, dan dusun yang belum menikmati layanan listrik.
Sebagai langkah lanjutan, PLN menyiapkan program elektrifikasi untuk 199 desa yang tersebar di enam provinsi: Papua, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan. Pelaksanaan program tersebut ditargetkan berlangsung secara bertahap hingga tahun 2027.
Wilayah Papua Tengah dan Papua Pegunungan menjadi tantangan tersendiri. Kondisi pegunungan, keterbatasan akses transportasi, serta jarak antarpemukiman menuntut perencanaan matang agar pembangunan infrastruktur berjalan efektif dan tepat sasaran.
Cheroline mendorong PLN mengoptimalkan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala mikrohidro. Pemanfaatan energi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif di daerah yang sulit dijangkau jaringan konvensional.
Roberth menegaskan komitmen PLN tidak berhenti pada capaian yang telah diraih. Menurutnya, keberhasilan melistriki 128 desa merupakan bukti komitmen perusahaan membawa terang hingga ke pelosok Tanah Papua.
"Kami memahami bahwa tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur bukan perkara mudah. Namun, hal tersebut tidak mengurangi semangat PLN untuk terus bekerja. Melalui kolaborasi dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, PLN optimistis target elektrifikasi selanjutnya dapat diwujudkan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat," ujarnya.
Pemerataan akses listrik di Tanah Papua diharapkan menjadi fondasi percepatan pembangunan daerah. Dengan energi yang memadai, warga pedalaman memiliki kesempatan lebih besar mengembangkan usaha produktif, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih baik.
"Program Listrik Desa ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan Papua Terang, sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata hingga ke kampung-kampung terjauh di ujung timur Indonesia," pungkas Roberth.