HONIARA — Lokakarya pelatihan media yang berfokus pada kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim resmi dimulai pada Senin (11/5/2026) di Rock Haven Inn, Honiara, Kepulauan Solomon. Acara ini mempertemukan jurnalis dan praktisi media dari seluruh negeri untuk meningkatkan pemahaman mereka dalam melaporkan salah satu tantangan paling mendesak di kawasan Pasifik.
Kerugian Ekonomi Capai 8,69 Persen PDB Setiap Tahun
Dalam sambutan pembukaan, Sekretaris Tetap Kementerian Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim, Manajemen Bencana dan Meteorologi (MECDM) David Hiba Hiriasia mengungkapkan data mengejutkan. Draf Laporan Basis Bukti Kerugian dan Kerusakan Iklim Kepulauan Solomon memperkirakan negara tersebut kehilangan sekitar USD 79 juta setiap tahunnya akibat dampak iklim.
“Angka ini setara dengan 8,69 persen dari PDB negara kita setiap tahun,” kata Hiriasia di hadapan para peserta. Ia juga merujuk pada banjir Honiara tahun 2014 yang menyebabkan kerugian sekitar USD 107,8 juta dan berdampak pada lebih dari 50.000 orang, berdasarkan Penilaian Kebutuhan Pasca Bencana Bank Dunia.
Lima Pulau Hilang Permanen Akibat Kenaikan Air Laut
Hiriasia menekankan bahwa tidak semua kerugian bisa diukur secara finansial. Ia mencatat setidaknya lima pulau di Kepulauan Solomon telah hilang secara permanen akibat kenaikan permukaan laut. “Ini adalah kisah-kisah yang harus diceritakan dan media lah yang harus menceritakannya,” ujarnya.
Ia menggambarkan lokakarya tersebut bukan sekadar sesi pelatihan biasa, melainkan “seruan untuk bertindak” bagi para profesional media. “Hari ini adalah momen bagi kita untuk menyadari kekuatan bercerita, pengaruh komunikasi, dan tanggung jawab media dalam membentuk bagaimana dunia memahami realitas kehidupan terkait perubahan iklim,” tegas Hiriasia.
Topan Maila Buktikan Pola Iklim Berubah
Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca di Kepulauan Solomon. Hiriasia menunjuk dampak Topan Maila baru-baru ini sebagai contoh nyata. Provinsi-provinsi seperti Western dan Choiseul mengalami dampak parah dari topan yang biasanya tidak terjadi di daerah tersebut.
“Perubahan iklim mengubah pola, memperluas risiko, dan mengungkap kerentanan baru. Dan peran Anda, sebagai profesional media, adalah untuk memastikan kisah-kisah ini diceritakan, didengar, dan dipahami,” kata Hiriasia.
Media Jadi Mitra Kunci Aksi Iklim Pasifik
Lokakarya ini diselenggarakan bersama oleh Asosiasi Media Kepulauan Solomon (MASI) dan Sekretariat Program Lingkungan Regional Pasifik (SPREP), dengan dukungan dari Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru melalui Proyek Kemampuan dan Kapasitas Kerugian dan Kerusakan.
Presiden MASI, Ofani Eremae, mengakui urgensi lokakarya ini, terutama setelah sebagian wilayah Solomon Barat terkena dampak Topan Maila. Menurutnya, jurnalis memiliki tanggung jawab penting dalam menginformasikan masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang isu-isu iklim.
Sementara itu, Jessica Rodham yang menyampaikan sambutan atas nama Direktur Jenderal SPREP mengatakan bahwa garis pantai di seluruh Pasifik mengalami erosi dan pengungsian telah terjadi di beberapa komunitas, termasuk di Kepulauan Solomon. “Kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim adalah masalah yang berdampak pada kita semua,” ucap Rodham. Ia menambahkan bahwa SPREP telah bekerja sejak 2018 untuk memperkuat kapasitas media Pasifik dalam melaporkan perubahan iklim, dan menggambarkan media sebagai mitra kunci dalam upaya global menghadapi krisis iklim.