Pencarian

Damai di Papua Pegunungan: Suku Lanny dan Yali Akhiri Perang Lewat Tradisi Adat Sakral, Panah Dipatahkan

Senin, 25 Mei 2026 • 15:55:05 WIB
Damai di Papua Pegunungan: Suku Lanny dan Yali Akhiri Perang Lewat Tradisi Adat Sakral, Panah Dipatahkan
Tetua adat Suku Lanny dan Yali mematahkan panah sebagai simbol perdamaian di Jayawijaya.

JAYAWIJAYA — Tradisi adat yang sarat makna menjadi jalan keluar bagi konflik berkepanjangan antara Suku Lanny dan Suku Yali di Papua Pegunungan. Dalam sebuah prosesi yang dihadiri tetua adat, tokoh agama, dan perwakilan pemerintah daerah, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri perang suku yang telah memakan korban jiwa dan kerugian harta benda.

Ritual Pematahan Panah: Simbol Penghentian Perang

Puncak dari prosesi perdamaian ini adalah ritual pematahan panah. Panah, yang selama ini menjadi simbol perlawanan dan alat utama dalam konflik, dipatahkan di hadapan seluruh peserta sebagai tanda bahwa kedua suku tidak akan lagi mengangkat senjata satu sama lain. "Ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah ikrar suci yang diwariskan leluhur kami," ujar salah satu tetua adat setempat.

Apa Dampak Perdamaian Ini bagi Warga di Pegunungan?

Perdamaian ini membawa dampak langsung yang signifikan bagi masyarakat di pedalaman Papua Pegunungan. Aktivitas warga yang sebelumnya terhambat akibat konflik—seperti berladang, pergi ke pasar, dan anak-anak bersekolah—kini bisa kembali normal. Tidak ada lagi rasa takut saat melintasi batas wilayah antar suku.

Bagaimana Peran Pemerintah dalam Proses Damai Ini?

Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan aparat keamanan setempat berperan sebagai fasilitator dalam proses mediasi. Mereka memastikan ritual adat berjalan lancar dan aman. Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk menindaklanjuti perdamaian ini dengan program-program pembangunan yang merata, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi titik rawan konflik.

Mengapa Konflik Suku Lanny dan Yali Bisa Terjadi?

Konflik antara Suku Lanny dan Yali dipicu oleh sengketa batas tanah ulayat yang sudah berlangsung lintas generasi. Sejak puluhan tahun lalu, gesekan kecil kerap terjadi dan memuncak menjadi bentrokan bersenjata yang menelan korban jiwa. Dengan adanya kesepakatan adat ini, diharapkan akar masalah tanah ulayat bisa diselesaikan secara musyawarah tanpa kekerasan.

Ritual pematahan panah ini menjadi contoh nyata bahwa kearifan lokal masih menjadi alat paling efektif dalam menyelesaikan konflik horizontal di Papua. "Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung. Sekarang saatnya membangun kampung bersama-sama," tambah tokoh pemuda Suku Yali. Perdamaian ini diharapkan menjadi preseden bagi penyelesaian konflik serupa di wilayah Papua Pegunungan lainnya.

Bagikan
Sumber: radarpapua.jawapos.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks