Pencarian

Produksi Sampah Kota Jayapura Tembus 240 Ton Per Hari, TPA Koya Koso Terancam Penuh

Kamis, 28 Mei 2026 • 12:04:01 WIB
Produksi Sampah Kota Jayapura Tembus 240 Ton Per Hari, TPA Koya Koso Terancam Penuh
Volume sampah Kota Jayapura mencapai 240 ton per hari, membebani TPA Koya Koso.

JAYAPURA — Volume sampah yang dihasilkan warga Kota Jayapura setiap harinya setara dengan berat 12 truk bermuatan penuh. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) setempat mencatat angka 240 ton per hari sebagai angka rata-rata, dengan lonjakan signifikan saat momen keagamaan.

Mengapa TPA Koya Koso Bisa Cepat Penuh?

Simon Petrus Koirewoa menjelaskan bahwa tanpa intervensi pemilahan dari sumbernya, TPA di Distrik Muara Tami akan kelebihan kapasitas lebih cepat dari perkiraan. “Kami mengajak masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, agar TPA di Koya Koso tidak cepat penuh,” ujarnya di Jayapura, Rabu.

Ia juga menyoroti potensi ekonomi dari sampah yang terbuang. DLHK berharap pihak ketiga bersedia berinvestasi di bidang persampahan karena sebagian material masih memiliki nilai jual. “Ada sampah yang bernilai ekonomi,” kata Simon.

Armada Pengangkut Sampah Tak Cukup, Wilayah Ini Paling Terdampak

Persoalan tidak hanya pada volume sampah, tetapi juga keterbatasan armada. DLHK Kota Jayapura saat ini hanya memiliki 14 kendaraan roda empat, 14 mobil ambrol, dan 36 dump truck untuk melayani seluruh wilayah kota.

Akibatnya, beberapa daerah belum mendapatkan pelayanan maksimal. Wilayah yang paling terdampak antara lain Koya Barat, Koya Timur, Distrik Muara Tami, dan sejumlah kampung di sekitar perkotaan. “Untuk wilayah Koya saja baru ada tiga armada, yakni dua dump truck dan satu ambrol,” ungkap Simon.

Apa Dampaknya bagi Warga di Distrik Muara Tami?

Warga di Koya Barat dan Koya Timur harus menunggu lebih lama dibandingkan kawasan lain karena jadwal pengangkutan yang tidak merata. Setiap kendaraan sudah ditentukan rute tetap, baik di jalan raya maupun kompleks perumahan, sehingga armada tidak bisa dialihkan secara fleksibel.

Kondisi ini diperparah dengan belum adanya investasi dari pihak swasta untuk mengolah sampah bernilai ekonomi. Sampah plastik, kardus, dan logam yang seharusnya bisa didaur ulang justru ikut menumpuk di TPA.

Bagaimana Solusi yang Ditawarkan DLHK?

Langkah jangka pendek yang bisa dilakukan adalah pemilahan mandiri oleh rumah tangga. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas bisa dikumpulkan untuk dijual ke pengepul.

DLHK juga membuka peluang investasi bagi pengusaha yang tertarik mengelola persampahan. “Kami berharap ke depan ada pihak ketiga yang mau berinvestasi di bidang persampahan,” ujar Simon. Jika realisasi, investasi ini bisa mengurangi beban TPA sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

Apakah Pemerintah Kota Sudah Mencari Jalan Keluar?

Pemkot Jayapura melalui DLHK terus mendorong kesadaran warga untuk mengurangi produksi sampah dari sumbernya. Namun, tanpa tambahan armada dan fasilitas pengolahan, masalah ini diprediksi akan berlanjut. Simon mengakui armada yang ada belum bisa menjangkau seluruh wilayah karena setiap kendaraan sudah ditentukan tugasnya masing-masing.

“Untuk Koya saja baru ada tiga armada, sehingga belum bisa maksimal,” katanya menegaskan.

Bagikan
Sumber: papua.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks