WAMENA — Puluhan warga Nasrani di Wamena menjadi penerima manfaat pembagian daging kurban dari DPD LDII Kabupaten Jayawijaya. Total 50 kantong daging dibagikan langsung kepada tetangga, relasi, dan tokoh masyarakat setempat.
Ketua DPD LDII Kabupaten Jayawijaya H Sudaryanto mengatakan pembagian ini merupakan tradisi tahunan yang bertujuan menjaga kerukunan. “Kami membagikan 50 kantong daging kurban kepada warga Nasrani di Wamena, yang mana mereka merupakan tetangga, relasi, dan tokoh-tokoh penting di daerah ini untuk memperkuat silaturahim dalam menjaga nilai toleransi yang telah dibangun selama ini,” ujarnya di Wamena, Rabu.
Enam Sapi dan Satu Kambing Disembelih
Total hewan kurban yang disembelih pada Idul Adha tahun ini sebanyak enam ekor sapi dan satu ekor kambing. Menurut Sudaryanto, jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kupon yang telah dibagikan kepada masing-masing keluarga penerima manfaat.
Daging kurban tidak hanya dibagikan ke warga Nasrani. LDII juga menyalurkan ke sejumlah perkampungan Muslim seperti Kampung Walesi dan Habema. Relasi seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Penyelenggara Hari Besar Islam (PHBI) juga menjadi penerima.
Gotong Royong dengan Warga Non-Muslim
Proses penyembelihan hewan kurban berlangsung di Sekretariat DPD LDII Kabupaten Jayawijaya. Yang menarik, kegiatan ini dilakukan secara gotong royong dan dibantu oleh warga non-Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa nilai kebersamaan lintas iman sudah mengakar di daerah tersebut.
Sudaryanto menjelaskan bahwa Hari Raya Kurban memiliki dua dimensi. “Dimensi spiritual itu berkaitan dengan ketakwaan kami kepada Allah SWT, dan dimensi sosial dalam arti ikhlas berkurban dan ikhlas berbagi,” katanya.
Apa Harapan LDII ke Depan?
Pihak LDII berharap daging kurban yang diberikan dapat diterima dengan senang hati oleh masyarakat, baik Islam maupun Kristen. “Pemberian yang diberikan pun dengan hati yang ikhlas,” ujar Sudaryanto.
Tradisi berbagi daging kurban ke lintas agama di Jayawijaya ini sudah berlangsung beberapa tahun terakhir. Di tengah keberagaman Papua Pegunungan, kegiatan semacam ini menjadi perekat sosial yang konkret.