JAYAPURA — Empat penyakit menular jadi fokus utama dalam diskusi yang digelar di Jayapura, Kamis (4/6/2026): HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), malaria, dan kusta. Pertemuan yang dihadiri puluhan dokter spesialis, tenaga kesehatan, aktivis, dan perwakilan lembaga swadaya masyarakat itu merupakan tindak lanjut dari agenda sebelumnya bersama Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus.
Stigma Sosial: Pasien Lebih Takut Dikucilkan daripada Sakit
Yanni menyoroti bahwa tantangan terbesar bukan hanya soal obat atau tenaga medis. Stigma terhadap penderita HIV/AIDS, TBC, dan kusta membuat banyak warga enggan memeriksakan diri.
“Kalau masyarakat masih takut memeriksakan diri karena khawatir mendapat stigma, maka kita akan selalu terlambat menemukan kasus. Penyakitnya bisa diobati, tetapi ketakutan dan diskriminasi juga harus kita lawan,” kata Yanni dalam keterangan yang diterima Koreri.com.
Akibatnya, penanganan menjadi terlambat dan rantai penularan semakin sulit diputus. Yanni menekankan bahwa edukasi publik dan penghapusan diskriminasi sama pentingnya dengan pendekatan medis.
Alat Deteksi Langka, Distribusi dari Pusat Jadi Kendala
Di sisi teknis, keluhan para dokter di lapangan cukup serius. Ketersediaan alat pemeriksaan untuk mendeteksi HIV dan TBC masih bergantung pada distribusi dari pemerintah pusat, yang kerap tidak tepat waktu.
“Kalau deteksi dini terganggu, maka seluruh rantai penanganan ikut terganggu. Penyakit menular membutuhkan kecepatan. Keterlambatan pemeriksaan akan memperbesar risiko penularan,” ujar Yanni.
Ia juga menyoroti prosedur panjang yang harus dilalui pasien TBC sebelum mendapatkan layanan yang ditanggung BPJS Kesehatan. Proses pemeriksaan hingga penetapan