PAPUA — Nilai ekspor hasil perikanan Indonesia pada Triwulan II 2026 menembus US$1,64 miliar dengan volume 351,68 ribu ton, naik 10,41% secara tahunan. Amerika Serikat dan China masih mendominasi, sementara ekspor ke Uni Eropa justru ambruk 47,08% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Pencapaian tersebut terekam dalam Rilis Data Kelautan dan Perikanan Triwulan II 2026 yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Data dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan diolah Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (DJPDSPKP). Angka ini masih bersifat sementara.
Amerika Serikat dan China Masih Jadi Pasar Utama
Amerika Serikat mempertahankan posisinya sebagai tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$527,35 juta. Kontribusinya mencapai 32,21% dari total ekspor perikanan nasional, tumbuh 4,37% dibanding Triwulan II 2025.
China menyusul di posisi kedua dengan nilai US$345,35 juta atau setara 21,09% dari total. Kinerja ekspor ke negara itu melesat 23,93% secara tahunan.
Yang lebih mengejutkan datang dari kawasan ASEAN. Nilai ekspor ke negara-negara tetangga tercatat US$230,45 juta dengan kontribusi 14,08%, melonjak 68,25% dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Jepang juga mencatat pertumbuhan tinggi. Nilai ekspor ke Negeri Sakura mencapai US$156,64 juta atau 9,57% dari total, naik 54,39% secara tahunan.
Uni Eropa Jadi Satu-satunya Pasar yang Terkontraksi
Berbeda dengan negara tujuan lainnya, ekspor ke Uni Eropa justru merosot tajam. Nilainya hanya US$125,14 juta dengan kontribusi 7,64%, turun 47,08% dibanding Triwulan II 2025.
Penurunan ini menjadi anomali di tengah tren positif ekspor perikanan Indonesia ke hampir semua kawasan utama. Kelompok negara lainnya mencatat US$252,21 juta atau 15,41% dari total, dengan pertumbuhan 12,63%.
Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk membuka akses pasar. Perluasan izin ekspor ke China mencakup 638 unit pengolahan ikan, pembukaan kembali akses pasar Uni Eropa, serta promosi produk melalui Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026.
Impor Perikanan Melonjak 41,74%, China Jadi Pemasok Terbesar
Di sisi impor, nilai pasokan hasil perikanan yang masuk ke Indonesia mencapai US$242,10 juta dengan volume 120,76 ribu ton. Nilainya melonjak 41,74% secara tahunan, sementara volumenya tumbuh 20,73%.
China muncul sebagai sumber impor utama dengan nilai US$36,08 juta. Kontribusinya tercatat 14,90% dari total nilai impor tahunan, turun tipis dibanding periode sebelumnya.
Amerika Serikat menempel ketat dengan raihan US$31,00 juta atau 12,81% dari total. Uni Eropa menyusul dengan US$20,47 juta atau 8,45%, disusul ASEAN senilai US$17,65 juta dengan kontribusi 7,29%.
Kelompok negara lainnya mendominasi dengan nilai US$136,89 juta atau 56,54% dari total impor. Lonjakan impor ini utamanya didorong kebutuhan industri pengolahan dalam negeri yang masih bergantung pada pasokan dari luar.
Tekanan terhadap Neraca Perdagangan Sektor Perikanan
Dengan ekspor US$1,64 miliar dan impor US$242,10 juta, sektor perikanan masih membukukan surplus perdagangan sekitar US$1,40 miliar pada Triwulan II 2026. Namun laju impor yang tumbuh empat kali lebih cepat dari ekspor menjadi catatan tersendiri.
Pertumbuhan impor 41,74% jauh melampaui kenaikan ekspor yang hanya 10,41%. Kondisi ini mencerminkan ketergantungan industri pengolahan dalam negeri terhadap bahan baku impor, terutama untuk produk yang tidak tersedia cukup di perairan Indonesia.
Bagi pelaku usaha sektor perikanan, membuka kembali akses ke Uni Eropa menjadi kunci untuk mengembalikan kinerja ekspor ke kawasan tersebut. Sementara pertumbuhan pasar ASEAN dan Jepang yang melesat di atas 50% memberi ruang diversifikasi yang lebih luas.