Pencarian

Rupiah Melemah ke Rp17.790 per Dolar AS, Tekanan Imbal Hasil Obligasi AS

Senin, 21 September 2026 • 10:36:31 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.790 per Dolar AS, Tekanan Imbal Hasil Obligasi AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.790 per dolar AS pada awal perdagangan.

PAPUA — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,18 persen atau 32 poin ke level Rp17.790 per dolar AS, melanjutkan tren penurunan yang sudah terjadi sejak akhir pekan lalu. Pelemahan terjadi di tengah imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang hampir menyentuh 5 persen akibat kenaikan suku bunga The Fed. Tekanan ini diperkirakan membatasi ruang gerak Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur pekan ini.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah melemah ke posisi Rp17.790 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Sebelumnya, pada penutupan akhir pekan kemarin, mata uang Garuda sudah turun 0,32 persen ke level Rp17.753 per dolar AS. Pelemahan berlanjut ini sejalan dengan prakiraan sejumlah analis pasar uang.

Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut faktor utama pelemahan rupiah adalah kenaikan imbal hasil obligasi AS yang hampir menyentuh 5 persen. "Hari ini rupiah diprakirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS," kata Lukman.

Imbal Hasil Obligasi AS Nyaris 5 Persen

Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat tersebut dipicu oleh keputusan The Fed menaikkan suku bunga. Indeks dolar AS terpantau bergerak stabil di level 100,26. Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal masih kuat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Lukman memprakirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Menurutnya, kenaikan suku bunga The Fed juga akan memberikan tekanan pada Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI hari Rabu lusa.

Stabilitas Kurs Jadi Faktor Utama Kebijakan BI

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mencermati pergeseran perhatian pasar dari keputusan The Fed ke dampaknya terhadap Indonesia. "Pekan ini, perhatian bergeser dari keputusan the Fed ke dampaknya terhadap Indonesia, terutama ke rupiah dan respons Bank Indonesia," ucap Rully.

Rully menilai stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor utama yang membatasi ruang kebijakan Bank Indonesia. Ia mencermati pergerakan rupiah yang kembali ke kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.

"Kami melihat stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor utama yang membatasi ruang kebijakan BI," ujarnya.

Dampak ke Pasar Modal dan Aliran Modal Asing

Tekanan suku bunga global yang tinggi tidak hanya mempengaruhi pasar uang, tetapi juga pasar modal. Pasar mengamati pergerakan imbal hasil obligasi global dan aliran modal asing yang berpotensi keluar dari Indonesia.

Bagi investor, pelemahan rupiah menambah risiko pada aset berdenominasi rupiah. Imbal hasil obligasi AS yang mendekati 5 persen membuat aset negara berkembang kurang menarik dibandingkan surat utang Amerika Serikat.

Pelaku pasar akan menantikan hasil RDG BI untuk melihat sejauh mana bank sentral merespons tekanan eksternal ini. Keputusan suku bunga BI akan menjadi kunci arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Follow jayapuraonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks