PAPUA — Danantara menargetkan jumlah BUMN yang dikelola tinggal sekitar 200 perusahaan hingga akhir tahun, turun dari lebih dari 1.000 entitas. Pemangkasan lewat penutupan, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi itu jadi bagian program transformasi agar pengelolaan BUMN lebih ramping dan efisien.
Paragraf pembuka: Target itu disampaikan Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria dalam acara yang digelar IKA FIKOM UNPAD bertajuk "Dua Tahun Danantara" di Jakarta, Jumat (2/10/2026). Sebelumnya, sebanyak 274 entitas BUMN sudah lebih dulu dipangkas sebagai bagian dari program transformasi pengelolaan BUMN.
Apa Isi Program Streamlining Danantara
Dony menjelaskan, penyusutan jumlah BUMN tidak terjadi lewat satu cara saja. Ada perusahaan yang ditutup, ada yang di-divestasi, dikonsolidasikan, hingga direstrukturisasi.
"Bentuk restrukturisasi itu berbagai macam. Ada yang bentuknya equity, ada juga yang kita inbreng aset, tapi itu juga ujungnya ke equity ada juga kita melakukan restrukturisasi pinjamannya," katanya.
Dengan skema beragam itu, Danantara berharap jumlah perusahaan yang dikelola menyusut signifikan hingga akhir tahun. Dony menyebut target ini sejalan dengan arahan yang kerap disampaikan Presiden.
274 Entitas BUMN Sudah Dipangkas Lebih Dulu
Pemangkasan gelombang awal sudah berjalan sebelum target 200 perusahaan dicanangkan. Dony melaporkan 274 entitas BUMN telah di-streamlining dalam pertemuan dengan Utusan Khusus Presiden pada Kamis (6/8/2026).
Pertemuan itu membahas perkembangan program transformasi BUMN yang tengah dijalankan pemerintah. Dalam kesempatan tersebut, Dony menyatakan program streamlining terus berjalan sesuai target.
"Kami laporkan sebelumnya bagaimana kami melakukan streamlining. Nah, result-nya sekarang sudah 274 perusahaan yang kita lakukan streamlining," ujar Dony dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Mengapa Jumlah BUMN Harus Dipangkas
Program ini menyasar struktur BUMN yang dinilai terlalu gemuk. Dengan lebih dari 1.000 perusahaan dan entitas anak, pengelolaan menjadi tidak efektif dan sulit diawasi.
Penutupan, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi diarahkan agar sisa perusahaan yang dikelola lebih ramping, efektif, dan efisien. Dony menyebut hasil akhirnya nanti tinggal sekitar 200 perusahaan yang berada di bawah pengelolaan Danantara.
"Nah, ini sudah selesai kita tentukan sehingga harapannya ini selalu disampaikan oleh Bapak Presiden, kita harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 perusahaan yang kita kelola," ujar Dony.
Penutup: Bagi publik, penyusutan jumlah BUMN ini menentukan siapa saja perusahaan negara yang tetap beroperasi dan mengelola sektor strategis. Jika target 200 perusahaan tercapai akhir tahun, lanskap BUMN Indonesia akan jauh lebih ringkas dibanding kondisi sebelum program transformasi berjalan.