PAPUA — Antonius Budi Ariantho mengungkap cara melatih Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin jelang medali emas ganda putra Asian Games 2026. Pelatih ganda putra itu menyebut pendekatan berbasis evaluasi kekurangan, bukan sekadar pujian, jadi kunci di balik dua emas dan satu perunggu Indonesia.
Indonesia menutup nomor ganda putra Asian Games 2026 dengan hasil maksimal. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin naik podium tertinggi, sementara Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri membawa pulang perunggu. Tambahan emas datang dari nomor beregu putra.
Antonius Budi Ariantho berdiri di belakang semua pencapaian itu sebagai pelatih ganda putra. Ia bukan tipe pelatih yang melulu memuji. Pendekatannya justru berangkat dari melihat kekurangan atlet, lalu membenahinya satu per satu.
Momen 18-13 yang Nyaris Jadi Bencana
Final ganda putra jadi ujian paling menegangkan. Leo/Daniel sudah unggul 18-13, tapi Wang Chang dan pasangannya mengubah tempo di depan. Selisih lima poin habis, skor berbalik jadi 18-19.
Antonius mengaku syok melihat situasi itu. Dari bangku pelatih, ia hanya bisa mengingatkan pemainnya untuk lebih berani mengambil keputusan. Jangan ragu saat menyerang atau melakukan pukulan drive.
"Coba lebih berani, fokusnya ditambah. 1-2 pukulan dijaga, jangan sampai lepas," ujar Antonius menirukan instruksinya di momen kritis.
Ganda China mempercepat tempo dan Leo/Daniel kalah cepat. Lawan bermain nekat karena tertinggal lima poin, memilih main cepat terus, dan pilihan itu hampir berbuah.
Kekalahan di Beregu yang Jadi Pelajaran
Sebelum final perorangan, Leo/Daniel sempat kalah saat nomor beregu melawan Malaysia. Antonius menilai penampilan mereka sebenarnya tidak buruk. Masalahnya ada di poin-poin kritis, saat fokus hilang dan agresivitas di depan berkurang.
Di final beregu, Leo/Daniel turun ketika Indonesia tertinggal 1-2. Antonius sudah mengantisipasi skenario itu. Tunggal pertama Jonatan melawan Shi Yuqi, ganda pertama Fajar/Fikri melawan Liang Weikeng/Wang Chang, dan Alwi Farhan melawan Li Shifeng, semuanya berpeluang fifty-fifty.
Gim pertama beregu sempat tertinggal 17-20. Dengan waktu istirahat minim, Antonius hanya menyampaikan satu hal: kelemahan lawan ada di Liu Yi yang cenderung mengembalikan bola panjang saat ditekan. Pemain diminta bersiap menyambut bola panjang itu.
Soal Drawing yang Disebut Menguntungkan
Banyak pihak menyebut Leo/Daniel diuntungkan karena Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty kalah di babak awal. Antonius menolak logika itu. Menurutnya, jika ganda India kalah dari Peeratchai Sukphun/Pakkapon Teeraratsakul, artinya ganda Thailand memang lebih bagus saat itu.
Ia menegaskan semua lawan punya bobot yang sama berat. Pesannya ke pemain sederhana: jangan menganggap enteng siapa pun, karena setiap lawan punya potensi mengalahkan pemain Indonesia.
Prinsip itu ia bawa sampai laga melawan ganda Vietnam, Nguyen Dinh Hoang/Tran Dinh Manh. Tidak ada lawan yang diremehkan.
Kepercayaan Diri dari Emas Beregu
Kemenangan di nomor beregu memberi dampak besar. Fajar/Fikri dan Leo/Daniel tampil maksimal, dan modal itu terbawa ke nomor perorangan. Antonius melihat anak asuhnya jauh lebih yakin saat turun di nomor individu.
Dari luar, gaya melatih Antonius memang terkesan sederhana. Ia mengamati kekurangan, mengingatkan hal spesifik di waktu singkat, lalu menyerahkan eksekusi ke atlet. Hasilnya, dua emas dan satu perunggu dari satu nomor yang ia tangani.