PAPUA — Berdasarkan data pasar spot, rupiah terkoreksi 0,43 persen dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif setelah posisi rupiah berdasarkan kurs tengah BI (Jisdor) pada Senin (11/5) sudah melemah 40 poin ke Rp17.415.
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) April 2026 mencatat IKK berada di level 123,0, naik tipis dari 122,9 pada Maret 2026. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.
Kenaikan ini didorong oleh membaiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang naik dari 115,4 menjadi 116,5. Artinya, persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli mengalami perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun, sentimen positif dari dalam negeri itu belum cukup kuat melawan tekanan eksternal. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru sedikit turun dari 130,4 menjadi 129,6, mengindikasikan optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan mulai moderat.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut pergerakan rupiah hari ini akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.410 hingga Rp17.460. Faktor eksternal menjadi pemicu utama.
"Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460," ujarnya.
Tekanan datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian AS "sama sekali tidak dapat diterima". Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah ini mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, sekaligus menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Data-data di atas menunjukkan bahwa perbaikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini belum mampu mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global. Investor masih wait and see sembari mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran.