JAYAPURA — Badan Pusat Statistik mencatat seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua mengalami inflasi pada April 2026. Meski naik tipis dari bulan sebelumnya, tekanan harga dinilai masih terkendali pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional Idul Fitri.
Plh Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua David Sipahutar menyebutkan kenaikan harga avtur dan BBM nonsubsidi, serta belum masuknya panen raya hortikultura lokal, menjadi faktor utama yang mendorong inflasi. “Inflasi bulanan ini tetap terjaga seiring dengan normalisasi permintaan pasca-HBKN Idul Fitri, walau sedikit meningkat,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Dari keempat provinsi, Papua Pegunungan mencatat inflasi tahunan paling tinggi, yakni 4,89 persen (year on year). Secara bulanan, provinsi ini mengalami inflasi 0,77 persen (month to month) dengan andil terbesar dari angkutan udara (0,30 persen), tomat (0,27 persen), dan beras (0,15 persen).
Tekanan harga di Papua Pegunungan sedikit tertahan oleh deflasi pada komoditas ketela rambat (-0,33 persen), telur ayam ras (-0,14 persen), dan emas perhiasan (-0,04 persen).
Di Provinsi Papua sendiri, inflasi bulanan tercatat 0,98 persen (mtm) atau 3,80 persen secara tahunan. Tiga komoditas utama penyumbang inflasi adalah ikan tuna (0,46 persen), angkutan udara (0,32 persen), dan tomat (0,13 persen).
Di sisi lain, harga daging ayam ras dan emas perhiasan masing-masing mencatat deflasi -0,15 persen, sementara buah pinang turun -0,13 persen.
Papua Tengah menjadi provinsi dengan inflasi paling rendah, hanya 0,21 persen secara bulanan dan 1,53 persen secara tahunan. Kenaikan harga bawang merah dan tomat menjadi pendorong utama, namun tertahan oleh deflasi cabai rawit yang mencapai -0,23 persen.
Sementara itu, Papua Selatan mencatat inflasi bulanan 0,94 persen dengan andil terbesar dari angkutan udara, sawi hijau, dan kangkung.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan Bulog menggelar Gerakan Pangan Murah secara berkala di Papua dan tiga DOB. Selain itu, BI juga memberikan dukungan sarana produksi kepada kelompok tani di Papua Tengah untuk komoditas cabai dan hortikultura.
“Kami juga memfasilitasi koordinasi dengan pelaku usaha dan instansi terkait untuk mengatasi hambatan distribusi,” kata David. Edukasi pengendalian inflasi juga dilakukan melalui media sosial dan kegiatan literasi kepada mahasiswa di wilayah kerja KPw BI Papua.