JAYAPURA — Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen tidak memberi masa transisi panjang bagi Kompol Paulus Hilapok. Usai memimpin upacara serah terima jabatan di lingkungan Polresta Jayapura Kota, Selasa (19/5/2026), Kapolresta langsung memberikan arahan keras: kuasai Abepura, yang bukan sekadar distrik terbesar dari lima distrik di Kota Jayapura.
Dengan jumlah penduduk yang paling tinggi, Abepura menyimpan dinamika sosial yang berbeda dari wilayah lain. Tekanan utama bukan hanya pada pelayanan keamanan rutin, melainkan pada kemampuan membaca gelagat publik yang kerap meluap melalui aksi mahasiswa.
"Dengan adanya beberapa kampus menjadikan wilayah Abepura merupakan titik penyampaian aspirasi oleh kelompok mahasiswa selama ini," ujar Kapolresta dalam pernyataan yang dikutip dari rilis resmi, Selasa.
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa pendekatan keamanan konvensional tidak lagi cukup. Kompol Paulus dituntut mampu berkomunikasi dengan kalangan akademisi dan aktivis, bukan hanya mengandalkan prosedur pengamanan demonstrasi.
Kapolresta mengingatkan bahwa para pendahulu Kompol Paulus dinilai berhasil. Catatan prestasi itu harus dilanjutkan, bahkan ditingkatkan, dengan terobosan dan inovasi yang membuat masyarakat semakin dekat dengan Polri.
Kalimat yang menonjol dalam arahan itu adalah ajakan untuk "mengkolaborasikan rumusan para penjahat pendahulunya." Frasa tersebut menegaskan bahwa keberhasilan di Abepura membutuhkan adaptasi terhadap metode yang sudah terbukti efektif, bukan sekadar memulai dari nol.
Tugas Kompol Paulus tidak ringan. Ia harus memastikan bahwa setiap kebijakan kepolisian di Abepura mampu menjawab kebutuhan warga yang sangat beragam—dari pedagang pasar, mahasiswa, hingga masyarakat adat.
"Buat terobosan-terobosan atau inovasi yang menjadikan masyarakat lebih mencintai Polri dan Polri ada di hati masyarakat," tegas Kombes Fredrickus.
Pesan itu menjadi penutup yang sekaligus menjadi tolok ukur kinerja Kapolsek baru. Di tengah kompleksitas Abepura, inovasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.